Catra Budaya

Laku Asketisme Radjiman Widyodiningrat

catrawarta.com — Berangkat dari keluarga sederhana, menapaki jenjang pendidikan sampai paripurna, memperoleh penghormatan sebagai bangsawan, memimpin para pendiri bangsa saat mendesain negara,...

Gerbang rumah kediaman radjiman wedyodiningrat dok Catra
Gerbang rumah kediaman Radjiman Wedyodiningrat (Dok. Catra)

catrawarta.comBerangkat dari keluarga sederhana, menapaki jenjang pendidikan sampai paripurna, memperoleh penghormatan sebagai bangsawan, memimpin para pendiri bangsa saat mendesain negara, lalu mengembalikan semua kebesaran itu untuk kemakmuran rakyat.

Adakah laku hidup yang sedemikian bersahaja yang sampai kini masih dirasakan rakyat jelata? Rumah tua berarsitektur klasik Jawa-Belanda yang kukuh berdiri di area pekarangan seluas 1,5 ha itu menjadi saksi bisu laku asketisme seorang Radjiman Wedyodiningrat. Rumah Ndoro Kanjeng, demikian warga menyebutnya itu, berada di dusun Dirgo, Kauman, Widodaren, Ngawi, Jawa Timur itu kini menjadi Museum Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Setelah malang melintang di berbagai kota untuk tugas kemanusiaan sebagai dokter, Radjiman (lahir di Mlati Glondong, Sendangadi, Mlati, Sleman, DIY 21 April 1879), memilih dusun Dirgo, dulu dikenal dengan Bulak Nglaran, untuk menghabiskan masa tua hingga wafat 20 September 1952. Rumah tua itu terletak di antara hutan jati dan persawahan, tak jauh dari stasiun Walikukun.

Sesuai keterangan Sadimin, juru kunci museum, Minggu (31/5/2026), rumah itu semula milik Nicholas Leonard van Deuning. Dia dikenal sebagai tuan tanah hingga rumah itu dibeli Radjiman pada 1936. Total kekayaan Deuning dibeli Radjiman seharga 13 ribu gulden meliputi rumah tua dengan luas halaman 1,5 ha, pekarangan 10,5 ha dan sawah 63 ha.

Aura kolonial terlihat begitu kita masuk gerbang rumah kediaman Radjiman. Jalan lurus masuk pekarangan sedang di ujung sebelah sana berdiri rumah tua yang masih terawat dengan arsitektur klasik. Di sisi kiri terdapat lumbung padi, sebelah kanan garasi, sedang di bagian belakang berupa dapur dengan sumur tua. Pohon-pohon tua yang mengelilingi rumah itu menjadi saksi sejarah penting tumbuh kembang kawasan itu. Radjiman dan keluarga baru mendiami rumah itu sejak 1938.

An elderly man in a patterned shirt and blue cap stands beside a green door in a simple room with a long wooden table and chairs nearby
Sadimin di ruang makan kediaman Radjiman Wedyodiningrat (Dok. Catra)

Laku asketisme Radjiman telah dikenal dan dirasakan masyarakat sejak dahulu. Berpihak tegas pada kemanusiaan, sebagai penganut teosofi, mendarmabaktikan ilmu dan kekayaan untuk sesama. Hidup damai bersahaja meski memegang kekuasaan tinggi, harta melimpah dan pengaruh yang amat luas. Tak lelah mencari ilmu sampai ke berbagai negara, lalu menggunakannya untuk laku keutamaan, adalah sikap hidup yang sungguh mengagumkan.

Bisa dibayangkan bagaimana saat panen padi dari 60-an hektare sawah. Semua tidak ditumpuk untuk kekayaan diri tetapi didistribusikan untuk masyarakat. Dari sawah seluas itu, kemudian dihibahkan juga untuk masyarakat. Hanya diambil 7,5 ha untuk ahli waris dan 7,5 ha untuk Dinas Pertanian, selebihnya dibagi untuk masyarakat.

Rumah tua yang amat bersejarah itu masih menyimpan kenangan Radjiman semasa hidup. Pada ruang tamu tertata kursi tua berbahan rotan dengan almari. Di bagian tengah ada ruang makan sekaligus tempat rapat, dan disampingnya ada kamar tidur dan kamar kerja yang juga digunakan Radjiman untuk manekung, samadi, kontemplasi. Ada pusaka berupa tombak yang setiap bulan Sura dijamasi untuk menjaga dari kerusakan.

Gaya klasik rumah kediaman radjiman wedyodiningrat dok Catra
Gaya klasik rumah kediaman Radjiman Wedyodiningrat (Dok. Catra)

Status rumah tua itu kini menjadi hak milik satu-satunya cucu Radjiman, Prof. Dr. dr. Retno Widowati Soebaryo, Sp.KK(K), seorang Guru Besar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI-RSCM. Seolah meneruskan jejak langkah eyangnya, Prof Retno pun menekuni kedokteran.

Pada 1 Juni 2026 di Museum Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat digelar Festival Budaya Pancasila. Sebuah upaya untuk memanfaatkan momentum Hari Lahir Pancasila untuk membangun kesadaran sejarah dan pembentukan karakter bangsa. Pemerintah Kabupaten Ngawi dan masyarakat harus menghidupkan (kembali) rumah tua ini generator peradaban saat bangsa kian kehilangan arah. Nyalakan lagi api perjuangan yang semakin redup dengan menggerakkan kesadaran dan kepedulian pada hidup bersama.

Dari rumah tua ini hendak disampaikan pesan, sehebat apapun pidato tentang Pancasila jika tak diimbangi laku utama, seperti diteladankan Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, rasanya sia-sia belaka. Saat persidangan BPUPKI beliau bertanya, “Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?”. Kini kita telah merdeka lebih 80 tahun. Bolehlah kita bertanya, ” Dimana Pancasila yang kita jadikan dasar negara?”
(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *