catrawarta.com — Beberapa waktu lalu Sumatra gelap gulita. Selama beberapa hari masyarakat merasakan listrik padam. Kerugian belum bisa dihitung. Yang jelas, para pelaku usaha terutama UMKM merasakan kerugian luar biasa. Seperti misalnya, peternak ayam yang harus kehilangan ribuan ekor. Peternak ikan juga mengalami kerugian. Sejauh ini, belum ada ganti rugi atas kejadian tersebut.
Belum lagi peralatan elektronik yang juga rusak akibat padamnya aliran listrik. Masyarakat mengeluh karena usaha yang mengandalkan listrik harus berhenti. Mereka bingung dan mempertanyakan apakah pemerintah akan memberi ganti rugi.
Peristiwa itu menjadi pertanyaan banyak pihak. Konon, Indonesia kelebihan daya listrik tetapi bisa padam dalam waktu yang lama. Padam 1-2 jam saja sudah bida dihitung kerugian, apalagi ini yang berhari-hari.
Pakar Sistem Tenaga Listrik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Rahmat Adiprasetya Al Hasibi menilai bencana kelistrikan berskala pulau bukan semata-mata akibat putusnya satu kabel transmisi. Insiden tersebut merupakan cerminan dari kelemahan sistemik pada desain jaringan kelistrikan yang sudah berlangsung lama.
”Gangguan yang berpusat pada saluran transmisi 275 kV di wilayah Jambi tersebut hanyalah pemicu awal. Yang mengubahnya menjadi bencana besar adalah ketidakmampuan sistem untuk mengisolasi gangguan sejak titik pertama, sehingga terjadi efek domino secara berantai,” papar Rahmat dalam keterangan tertulis yang disampaikan ke media massa.
Ketidakseimbangan Frekuensi
Ia memaparkan, ketika gangguan pada jalur transmisi utama terjadi, sistem interkoneksi Sumatra yang sebelumnya terhubung dalam satu jaringan besar mendadak terpisah menjadi pulau-pulau kecil (subsistem). Kondisi tersebut menciptakan ketidakseimbangan frekuensi dan tegangan yang fatal di setiap wilayah yang terisolasi.
Menurutnya, sebagian subsistem mengalami kelebihan pasokan karena kehilangan beban secara mendadak sedangkan subsistem lainnya justru mengalami defisit karena terputus dari sumber pembangkit utama.
Keduanya sama-sama berbahaya bagi stabilitas listrik. Ketika pasokan kurang, frekuensi sistem turun dan pembangkit akan keluar dari jaringan secara otomatis untuk melindungi peralatan. Sebaliknya, saat pasokan berlebih, frekuensi meningkat dan memicu mekanisme proteksi yang sama. Kondisi itu yang membuat efeknya menjalar sangat cepat ke seluruh sistem.
Ia mengungkapkan, kendati sistem Sumatra sebenarnya sudah dilengkapi jalur redundansi (jalur cadangan), bahkan memiliki dua hingga empat rangkaian transmisi pada beberapa ruas, namun demikian yang menjadi pertanyaan kualitas penempatannya.
”Pertanyaannya, apakah redundansi itu benar-benar terpisah secara geografis? Kalau rangkaian cadangan berada di koridor fisik yang sama, satu gangguan tunggal (seperti pohon tumbang atau sambaran petir) tetap berpotensi melumpuhkan seluruh rangkaian sekaligus,” tandas Rahmat.
Kesiapan Cadangan Listrik
Kecuali soal jalur, ia juga membongkar masalah kesiapan cadangan listrik. Cadangan listrik tidak hanya soal jumlah kapasitas di atas kertas, melainkan kecepatan responsnya Ketika terjadi kedaruratan.
Ia melihat banyak cadangan listrik di Sumatra merupakan cadangan tidak berputar (non-spinning reserve) yang memerlukan waktu lama untuk diaktifkan. Akibatnya, saat krisis terjadi pada jam beban puncak sekitar pukul 19.00 WIB, subsistem yang terpecah tidak memiliki ketahanan mandiri untuk bertahan dalam hitungan detik.
Rahmat menilai sistem proteksi saat ini masih terlalu fokus melindungi peralatan individual, bukan menghentikan penyebaran gangguan secara sistemik.
Setelah melihat insiden tersebut, ia mendesak PT PLN (Persero) untuk segera mengubah paradigma perencanaan sistem kelistrikan nasional. Selama ini, perencanaan cenderung hanya fokus pada kecukupan pasokan listrik secara agregat di tingkat regional, namun mengabaikan ketahanan tiap-tiap subsistem.
Ia memberi masukan agar PLN segera melakukan simulasi ulang skenario gangguan besar, khususnya pada kondisi beban puncak, untuk mengidentifikasi titik-titik lemah jaringan transmisi yang belum terpetakan. Apabila tidak ada perubahan pendekatan, kejadian serupa bisa terulang lagi.

Waisak Jatuh 31 Mei, Biksu Ritual di Borobudur 