catrawarta.com — Tak banyak anak muda yang mau mendalami sejarah dan pemikiran para pejuang. Kalaupun ada, bisa dihitung dengan jari. Arus modern dan pengaruh gaya hidup digital membuat mereka cukup membuka layar dan melihat sekilas.
Namun, ini ada yang berbeda. Sejumlah anak muda dan juga sebagian orang dewasa melakukan wisata sejarah di sebuah gedung Jalan Gadjah Mada No 26 Yogyakarta. Gedung bersejarah yang saat ini digunakan sebagai TK Al Husna merupakan rumah pertama Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara.
Rumah itu menjadi kediamannya antara tahun 1919-1935 dan merupakan saksi bisu berdirinya Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Rombongan wisata sejarah mendapat sambutan hangat dari komunitas Social Movement Institute (SMI) Yogyakarta.
Ada drg Widyawati dan Purbo Wijaya yang juga cucu Ki Hadjar Dewantara, pemilik rumah Retno W, Hary Sutrasno yang juga cucu Mr Kasman Singodimedjo serta guru-guru TK Al Husna.
”Sebagai keluarga Ki Hadjar, kami mengapresiasi kegiatan literasi sejarah kebangsaan Indonesia yang kami lihat pesertanya rata-rata anak muda,” tutur Widyawati.
Mereka berinisiatif menelusuri jejak perjuangan para pendiri bangsa. Kali ini mereka datang dan berdiskusi untuk lebih mendalami perjuangan dan gagasan-gagasan kebangsaan Ki Hadjar. Spirit gagasannya, pendidikan yang memerdekakan dan berbasis budaya.
Keluarga Pahlawan Nasional
Aktivitas menelusuri jejak perjuangan para pendiri bangsa mendapat dukungan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (IKPNI) koordinator wilayah (korwil) Yogyakarta.
Pengurus Bidang Komunikasi dan Informasi IKPNI korwil Yogyakarta yang sekaligus cucu Pahlawan Nasional Mr Kasman Singodimedjo, Hary Sutrasno mengungkapkan kegiatan tersebut sesuai UU No 20/2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Pada norma pasal 34 ayat (1) disebutkan IKPNI memikul kewajiban formil untuk menjaga dan melestarikan perjuangan, karya, dan nilai-nilai kepahlawanan, serta menumbuhkan semangat kepahlawanan.
Tampak mendampingi peserta wisata sejarah, sejarawan JJ Rizal, Ketua Komunitas Social Movement Institut (SMI) Eko Prasetyo dan koordinator kegiatan Logo Situmorang dari Komunitas Bambu (Kobam) Jakarta.
Social Movement Institute (SMI) adalah lembaga nirlaba dan rumah bagi anak muda yang minat pada tumbuhnya pikiran maju, terbuka dan tidak berpihak. Komunitas didirikan tahun 2013 dan berjuang membentuk identitas anak muda yang setia kepada kebenaran dan keadilan serta merawat dan menyuburkan sikap berani dan kritis.
Mereka berkolaborasi dengan KOBAM, lembaga penerbitan independen di Jakarta yang berfokus pada penerbitan buku sejarah, sosial dan humaniora. Mereka menyusuri sejumlah tempat di Yogyakarta yang memiliki keterkaitan dengan Ki Hadjar Dewantara.

Hewan Kurban Harus Punya Surat Keterangan Sehat 