catrawarta.com — Pernahkah merasakan sensasi menyeberangi jembatan gantung bersejarah yang menjadi penanda batas antara Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Bantul?
Terletak di sebelah barat daya dan hanya berjarak 15 km dari Kota Yogyakarta, jembatan ini bisa menjadi destinasi wisata alam sekaligus wisata sejarah bagi siapapun yang berkunjung ke Jogja.
Jembatan Bantar semula hanyalah jembatan darurat yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1886 sebagai sarana bagi mereka yang ingin menyeberangi Sungai Progo. Sebelumnya wilayah Kulon Progo dan Bantul hanya dihubungkan dengan jembatan kereta api dan belum ada sarana penghubung bagi kendaraan darat untuk menyeberangi Sungai Progo.
Meningkatnya volume kendaraan yang melintas membuat pemerintah Hindia Belanda merancang sebuah jembatan gantung dengan teknologi paling modern saat itu. Jembatan gantung dipilih karena kawasan Sungai Progo yang lebar dan rawan banjir, sehingga tiang pancang jembatan cukup 2 pilar saja agar tidak bisa diterjang banjir.
Pembangunan dimulai pada 1917, dan sempat terhenti karena naiknya harga baja untuk jembatan setelah Perang Dunia I. Pembangunan dilanjutkan pada tahun 1928 dan diresmikan pada 17 Juni 1929 oleh Gubernur Yogyakarta, J.E. Jasper. Biaya total pembangunan jembatan disebutkan sebesar 455.000 Gulden, yang mana dibagi rata antara Pemerintah Kolonial Belanda dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Jembatan ini juga menjadi salah satu titik pertempuran Belanda dengan TNI melalui strategi perang gerilya saat Agresi Militer II pada tahun 1948. Pasukan gerilya membentuk kantong perlawanan untuk menyerang berbagai pos Belanda, dengan sasaran utama Jembatan Bantar yang digunakan Belanda sebagai markas komando.
Pasukan gerilya memasang bom di sepanjang jembatan menuju arah Yogyakarta. Pertempuran di Jembatan Bantar tersebut terus berlangsung hingga tahun 1949, dengan akhir dimenangkan oleh pihak Indonesia karena berhasil mengikat pasukan Belanda yang bermarkas di Jembatan Bantar, sehingga tidak dapat membantu pasukan Belanda yang diserang di Kota Yogyakarta Pada Februari 1949, pasukan TNI menyerang kedudukan Belanda di Jembatan Bantar.
Pada 1 Maret 1995 Jembatan Bantar diresmikan sebagai Monumen Perjuangan oleh Menko Polkam RI pada waktu itu, Jenderal (Purn) Soesilo Soedarman, selaku Ketua Umum Pagubuyan Wehrekreise III.
Pada tahun tahun 1957 jembatan ini dibangun ulang oleh Djawatan Kereta Api dengan kontruksi baru. Kini, jembatan asli yang dibangun oleh Hindia Belanda sudah tidak digunakan, dan sebagai gantinya dibangun jembatan baru di sisi selatan jembatan lama pada tahun 2006.

Jembatan Bantar lama sepanjang 180 meter telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Gubernur DIY. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga memanfaatkan keberadaan jembatan Bantar lama sebagai wisata sejarah. Sebelumnya, kawasan jembatan ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo secara swadaya sebagai tempat wisata dengan nama “Towilfiest”.

Menggemakan Lagi ‘Tolak Judol’ Jaga Keluarga, Selamatkan Masa Depan Anak 