catrawarta.com — Kasus ditemukannya 11 bayi di sebuah rumah di Sleman beberapa waktu lalu membuat banyak kalangan kaget. Ada yang marah, ada yang sedih, ada pula yang langsung menghakimi.
Kehamilan yang tidak direncanakan adalah satu hal yang sebenarnya sudah lama ada di sekitar kita namun selama ini berusaha disembunyikan. Dalam kasus ini ada beberapa alternative tindakan yang biasanya diambil. Nikah, gugurkan kandungan, lahir dan telantarkan, atau mencari bantuan pihak ketiga yang mau membiayai kehamilan sampai kelahiran sekaligus menampung bayi yang terlahir.
Tak ada makan siang gratis. Relasi kemanusiaan antara ibu hamil yang butuh pertolongan vs bidan yang terlibat terasa naif. Dugaan bahwa peristiwa tersebut terkait perdagangan bayi berkedok adopsi ilegal mengemuka karena ibu dari para bayi itu tidak ada di lokasi pengrebekan.
Kejadian ini sebenarnya adalah bagian dari rangkaian panjang kurangnya edukasi kesehatan reproduksi serta support system yang lemah dimana budaya patriaki cukup kuat sementara perempuan dikenai stigma sosial.
Tekanan sosial terhadap perempuan inilah yang membuat mereka menempuh berbagai jalan pintas yang bertentangan dengan norma agama maupun norma hukum. Kasus ini bukan yang pertama terjadi.
Dan akan kembali berulang bila tidak ada perubahan dalam tatanan kemasyarakatan yang memberi ruang bagi siapapun yang tengah berbuat salah. Merangkul perempuan yang telanjur hamil di luar pernikahan dan menerima bayi yang lahir sebagai individu merdeka yang tidak terbebani kesalahan orang tuanya.

UGM Kembangkan Agrivoltaic Smart Farming Berbasis Energi Surya & AI 