catrawarta.com — Di tengah dunia pendidikan yang makin sibuk mengejar ranking, ijazah, sertifikat, dan kebutuhan industri, pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas terasa seperti alarm keras yang mengingatkan: tujuan pendidikan sejatinya bukan mencetak manusia pintar, tetapi manusia beradab.
Pandangan itu kembali ditegaskan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Mohammad Syifa Amin Widigdo, dalam sebuah diskusi di Honderhome Library, Jumat (24/4). Menurutnya, Al-Attas bukan sekadar sarjana besar, melainkan arsitek pemikiran Islam modern yang membangun bangunan intelektual secara utuh: dari ilmu pengetahuan, sejarah, pendidikan, hingga kritik terhadap sekularisme.
Jika banyak pemikir Muslim modern berbicara tentang reformasi Islam, maka Al-Attas bergerak lebih mendasar: membongkar cara manusia memandang ilmu, realitas, dan kehidupan itu sendiri.
Syifa membandingkan posisi Al-Attas dengan sejumlah tokoh besar Indonesia. Harun Nasution dikenal lewat gagasan Islam rasional. Nurcholish Madjid berusaha mempertemukan Islam dengan modernitas dan keindonesiaan. Sedangkan Hamka menghadirkan perpaduan ulama, sastrawan, sekaligus pendakwah.
Namun Al-Attas melangkah lebih dalam. Ia mempertanyakan fondasi berpikir modern itu sendiri. Dengan pandangan alam apa manusia memahami ilmu? Apa sebenarnya tujuan pengetahuan? Dan mengapa modernitas justru melahirkan krisis makna?
Di titik itulah kritik Al-Attas terhadap sekularisme menjadi penting. Baginya, sekularisme bukan sekadar pemisahan agama dan negara. Sekularisme adalah cara pandang yang diam-diam mengatur bagaimana manusia memahami ilmu, nilai, kebebasan, bahkan kebenaran.
Masalah besar umat Islam, menurut Al-Attas, bukan semata ketertinggalan teknologi atau minimnya sains. Problem utamanya adalah umat memakai sistem pengetahuan Barat tanpa memeriksa asumsi dasar yang tersembunyi di baliknya. Akibatnya, ilmu kehilangan arah moral dan manusia kehilangan pegangan.
Karena itu, gagasan “islamisasi ilmu” yang sering disalahpahami sebenarnya bukan proyek menempelkan ayat Al-Qur’an ke semua disiplin ilmu. Bukan slogan religius, bukan pula anti-Barat atau anti-sains.
Yang dimaksud Al-Attas jauh lebih mendalam: membersihkan ilmu dari asumsi-asumsi sekuler yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam, lalu menata ulang ilmu berdasarkan tauhid, moralitas, dan tujuan hidup manusia.
Di sinilah Al-Attas terasa relevan dengan kondisi hari ini. Dunia modern menghasilkan banyak orang pintar, tetapi tidak otomatis melahirkan manusia bijak. Kampus melahirkan ahli, tetapi belum tentu melahirkan manusia yang tahu untuk apa ilmunya digunakan.
Korupsi dilakukan orang berpendidikan. Manipulasi dilakukan orang cerdas. Kerusakan lingkungan dirancang oleh ahli. Teknologi berkembang cepat, tetapi adab berjalan tertatih.
Karena itu Al-Attas menempatkan satu kata sebagai inti pendidikan: adab.
Bagi Al-Attas, adab bukan sekadar sopan santun atau tata krama. Adab adalah kemampuan menempatkan sesuatu secara tepat: Tuhan pada posisi ketuhanan-Nya, ilmu pada martabatnya, akal pada batasnya, dan manusia pada tanggung jawab moralnya.
Maka pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi pembentukan watak dan kesadaran moral. Bukan sekadar ta’lim, melainkan ta’dib.
Dalam bahasa sederhana: sekolah tidak cukup hanya membuat orang pandai mencari uang, tetapi harus mampu membuat manusia tahu mana yang benar, mana yang layak, dan mana yang bermartabat.
Al-Attas pernah mengingatkan, krisis terbesar umat Islam sejatinya bukan krisis kecerdasan, melainkan kehilangan adab. Dari kehilangan adab itulah lahir kekacauan ilmu, pemimpin palsu, dan ketidakadilan sosial.
Diagnosis itu terasa sangat dekat dengan realitas Indonesia hari ini.
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang langka justru manusia beradab: pejabat yang tahu malu, elite yang punya empati, ilmuwan yang berpihak pada kemanusiaan, dan pendidikan yang tidak sekadar menjadi pabrik tenaga kerja murah.
Karena itu, warisan terbesar Al-Attas bukan hanya kritiknya terhadap Barat atau sekularisme. Warisan terpentingnya adalah keberanian mengembalikan pendidikan pada tujuan paling hakiki: membentuk manusia utuh.
Sebab bangsa tidak runtuh karena kurang sarjana. Bangsa runtuh ketika ilmu kehilangan adab. (Muhammadiyah.id/*)

Warga, Ormas dan Komunitas Malioboro Deklarasi ‘Jaga Jogja dengan Cinta’ 