Catra Cendekia

‘Bestari Saintek 2026’ Diluncurkan, Dorong Hilirisasi Riset Kampus ke Industri

catrawarta.com — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) resmi meluncurkan Program Bestari Saintek 2026 sebagai langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi hasil...

Speaker at a podium in front of a large blue conference banner reading bestari saintek with event details indonesian flag visible on the left and an audience in the foreground
Mendiktisaintek meluncurkan Program Bestari Saintek 2026 di Jakarta. (Istimewa)

catrawarta.comKementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) resmi meluncurkan Program Bestari Saintek 2026 sebagai langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar dapat menembus dunia industri dan pasar.

Program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara inovasi yang dihasilkan di kampus dengan kebutuhan komersial di lapangan. Melalui kolaborasi dengan sektor industri, hasil riset diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap akademik, tetapi dapat berkembang menjadi produk nyata yang bernilai ekonomi.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan, program ini dijalankan bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDB), dengan fokus pada riset yang telah mendekati tahap implementasi.

“Setiap tahun kita mengundang peneliti yang risetnya sudah mendekati tahap hilirisasi,” ujarnya usai acara Kick Off Program Bestari Saintek dan peluncuran Program Semesta Skema Pendanaan APBN 2026 di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Menurutnya, riset yang didanai dalam program ini merupakan hasil penelitian yang siap dikembangkan lebih lanjut bersama mitra industri. Keterlibatan industri dinilai krusial karena memiliki pemahaman yang lebih kuat terhadap kebutuhan pasar serta strategi komersialisasi.

Melalui kolaborasi tersebut, peneliti dan pelaku industri akan bekerja sama mengembangkan inovasi menjadi produk, mulai dari tahap prototipe hingga produksi massal.

Brian juga menyoroti tantangan utama dalam ekosistem riset, yaitu fenomena death valley atau lembah kematian. Fase ini kerap menjadi titik kegagalan ketika hasil penelitian tidak mampu bertransformasi menjadi produk yang diterima pasar.

“Sering kali riset kita sudah bagus, tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, baik dari sisi harga, kenyamanan, maupun kualitas. Di sinilah pentingnya kolaborasi dengan industri,” jelasnya.

Pada tahun 2026, sebanyak 122 proposal riset memperoleh pendanaan melalui program ini. Setiap proposal rata-rata mendapatkan dukungan dana sekitar Rp70 juta, dengan total anggaran yang dapat mencapai ratusan juta rupiah per proyek.

Selain mendorong komersialisasi, program ini juga memberikan perlindungan bagi peneliti melalui skema royalti, sehingga mereka tetap mendapatkan manfaat ekonomi dari hasil inovasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *