catrawarta.com — Aktivitas belajar ratusan siswa SDN Kajuanak 4 di Kecamatan Galis Bangkalan Madura Jawa Timur, kini bukan di ruang kelas dengan dinding kokoh dan papan tulis yang rapi, melainkan di bawah tenda darurat berbahan terpal yang berdiri seadanya di halaman sekolah. Proses belajar mengajar itu sudah berlangsung berbulan-bulan ,tanpa kepastian kapan akan berakhir.
Kerusakan parah pada gedung sekolah memaksa pihak sekolah mengambil langkah darurat. Risiko keselamatan menjadi pertimbangan utama. Apalagi retakan, atap rapuh dan struktur bangunan yang tak lagi layak pakai membuat ruang kelas berubah menjadi ancaman. Dalam kondisi seperti itu, belajar di luar ruangan bukan pilihan, melainkan keterpaksaan.
Kepala sekolah, Ningsih, menggambarkan, situasi ini dengan nada getir. Upaya telah dilakukan, data telah diperbarui dalam sistem Dapodik, dan harapan telah disematkan pada rencana prioritas rehabilitasi tahun 2026. Namun, semua itu masih tersangkut pada satu kata yang akrab dalam birokrasi, yakni menunggu, termasuk soal anggaran yang belum ada realisasi dari pusat.
“Sudah berbulan-bulan kondisi ini terjadi dan belum ada kejelasan soal rencana rehabilitasi atau perbaikan dari Dinas Pendidikan,” katanya, Rabu (29/4/ 2026) sebagaimana ditulis koranmadura.
Sementara itu, hari-hari belajar terus berjalan, meski dalam keterbatasan. Siswa kelas 2 bertahan di bawah tenda terpal, berhadapan dengan panas dan debu. Siswa kelas 3 dan 5 harus berpindah, menumpang di rumah warga sekitar yang member izin untuk ditempati. Mereka berterimakasih dan memberi apresiasi atas kesediaan warga menyediakan rumahnya untuk penampungan sementara.
Lebih dari sekadar persoalan fisik bangunan, kondisi ini menyentuh aspek yang lebih dalam, yakni rasa aman dan kenyamanan belajar anak-anak. Pertanyaan yang kerap mereka lontarkan “Kapan kelas kami diperbaiki?” menjadi gema yang memantul tanpa jawaban pasti. Di baliknya, tersimpan kegelisahan yang tak seharusnya menjadi beban pikiran anak usia sekolah dasar.
Fenomena ini mencerminkan problem klasik dalam tata kelola pendidikan, jurang antara perencanaan dan pelaksanaan. Data boleh jadi telah akurat, program mungkin sudah dirancang, tetapi tanpa eksekusi yang sigap, semuanya berhenti sebagai angka dan dokumen.
Di tengah segala keterbatasan, para guru tetap mengajar, para siswa tetap belajar. Ada keteguhan, tetapi juga ironi yang sulit diabaikan. Pendidikan, yang kerap digaungkan sebagai prioritas utama pembangunan, justru tersendat pada hal paling mendasar, ruang belajar yang layak.
Merka tetap berharap ada kepastian untuk berdirinya bangunan fisik. Sebab bagi mereka, ruang kelas bukan hanya tempat belajar, tetapi juga simbol masa depan yang seharusnya dibangun dengan lebih serius, bukan ditunda tanpa batas waktu.

RI Surplus Telur, Guru Besar UGM Bongkar “Ilusi Kekurangan” demi Membuka Jalan Investor Asing 