catrawarta.com — Setiap 1 Mei, Hari Buruh Internasional diperingati dengan demonstrasi dan tuntutan hak pekerja. Namun bagi sebagian generasi muda hari ini, ada pertanyaan yang mulai muncul: apakah mereka termasuk “buruh”?
Di tengah perubahan dunia kerja, banyak Gen Z tidak lagi bekerja dalam sistem yang jelas. Mereka menjadi freelancer, pekerja lepas, content creator, hingga pekerja berbasis proyek yang tidak terikat secara formal.
Secara teknis, mereka bekerja. Namun secara identitas, tidak semua merasa sebagai “pekerja”.
Bekerja Tanpa Label
Dunia kerja saat ini bergerak lebih cepat dari dkonsekuensi Jika dulu buruh identik dengan pekerja pabrik atau karyawan tetap, kini batas itu semakin kabur. Laptop menggantikan mesin. Deadline menggantikan jam kerja tetap. Namun perubahan ini membawa konsekuensi.
Laporan dari Deloitte menunjukkan bahwa generasi muda menghadapi tingkat kecemasan kerja yang tinggi, terutama karena ketidakpastian pendapatan dan masa depan karier. Tanpa kontrak jangka panjang, tanpa jaminan sosial, dan tanpa kepastian pendapatan, banyak pekerja muda berada dalam posisi yang tidak stabil.
Fleksibel, Tapi Rentan
Di satu sisi, sistem kerja baru menawarkan kebebasan: bisa bekerja dari mana saja, waktu lebih fleksibel, dan pilihan lebih banyak.
Adit (23), pekerja lepas di bidang desain digital, mengaku tidak pernah benar-benar merasa sebagai “buruh”, meskipun bekerja hampir setiap hari.
“Kerja terus sih, tapi nggak ngerasa kayak pekerja tetap. Nggak ada jam pasti, nggak ada jaminan juga. Jadi kadang bingung, ini kerja kayak gatau arahnya kemana,” ujarnya.
Namun di sisi lain, muncul kerentanan: penghasilan tidak pasti, tidak ada perlindungan kerja, sulit merencanakan masa depan.
Kondisi ini membuat banyak Gen Z berada di antara dua dunia—tidak sepenuhnya bebas, tetapi juga tidak sepenuhnya terlindungi.
Hari Buruh yang Berubah
Hari Buruh selama ini berbicara tentang perjuangan hak pekerja. Namun di era sekarang, bentuk pekerja itu sendiri berubah.
Banyak yang bekerja tanpa sistem yang jelas. Tanpa organisasi. Tanpa representasi.
Akibatnya, perjuangan pun menjadi lebih individual.
Tidak selalu dalam bentuk demonstrasi,
tetapi dalam bentuk bertahan setiap hari.
Pertanyaan yang Tersisa
Hari Buruh hari ini mungkin bukan lagi hanya tentang tuntutan klasik.
Tetapi tentang satu pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana memperjuangkan hak,
ketika bahkan definisi “pekerja” itu sendiri mulai berubah?
Dan di tengah dunia kerja yang terus bergerak,
mungkin tantangan terbesar bukan hanya bekerja—tetapi memahami posisi kita di dalamnya.

Berburu TBC di Daerah Terpencil, Pentingnya Skrining Massal Gunakan X-ray Portable 