catrawarta.com — Rombongan jemaah umrah asal Bantul DIY dan Solo Jawa Tengah yang sempat tertahan selama 6 hari dan terpaksa ‘diasramakan’ di hotel tak jauh dari Bandara Internasional King Abdul Azis Jeddah, akhirnya bisa dipulangkan ke tanah air. Mereka terpaksa tertahan di Jeddah imbas dari meningkatnya perang Iran-Amerika Serikat dan Isrel yang sempat memanas.
“Alhamdulillah, berkat koordinasi yang baik antara Biro Travel dengan Pengawas Umrah Kantor Urusan Haji Konsulat Jenderal (UHK KJRI) Jeddah dan maskapai, kami bisa disegerakan pulang, ” ungkap ketua rombongan jemaah umrah dari Bantul, Aris Samsugito melalui saluran WA.
Rombongan jemaah umrah yang jumlahnya 50 orang ini berangkat dari Bandara Internasional Yogyakarta 19 Februari 2026 melalui maskapai penerbangan Malaysia dengan biro Travel FMA untuk menjalani ibadah umrah.
Sebelum ke Makkah, menuju Madinah (Masjid Nabawi) terlebih dahulu, sebagai pilihan populer untuk menenangkan hati dan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.
Selama 4 hari di Madinah dilanjutkan menuju Makkah untuk menjalani rangkaian ibadah umrah di Masjidil Haram diawali dengan mengambil mikot (berniat umrah ) di Bir Ali.
Kemudian setelah semua rangkaian umrah di Masjidil Haram selesai, Sabtu (28/2) rombongan bersiap kembali ke tanah air, dengan terlebih dahulu melakukan tawaf wada’ sebagai momen pamitan terakhir meninggalkan kota suci Makkah.
Saat menuju Bandara Internasional King Abdul Azis, hari itu bertepatan konflik Israel dan AS menyerang Iran, sehingga berdampak terhadap kegiatan penerbangan global, terutama pada jalur penerbangan di wilayah Timur Tengah.
Tak Mau Ambil Risiko
Banyak maskapai penerbangan yang tidak mau ambil resiko, sehingga memilih mengamankan penumpang dan menunda keberangkatan penerbangan. Akibatnya, penumpang yang pada umumnya rombongan jemaah umrah dari berbagai negara tertahan di hotel terdekat untuk menunggu penjadwalan ulang pemberangkatan kembali.
Di Bandara King Abdul Azis waktu itu sempat sepi, tetapi hari berikutnya kembali sibuk dengan kedatangan dan kepulangan jemaah umrah dari penjuru dunia.
Pada awalnya terdapat 58.873 jemaah umrah asal Indonesia yang tertahan di Arab Saudi akibat penutupan jalur penerbangan terdampak konflik Iran-AS dan Israel, tetapi secara bertahap, kini jemaah umrah yang tertahan sudah bisa kembali pulang.
Pemerintah juga mengadakan Koordinasi Lintas Kementerian, meliputi
Kementerian Luar Negeri, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Kementerian Perhubungan, perusahaan penerbangan, serta asosiasi PPIU dan maskapai dengan melibatkan berbagai pihak yang berkaitan dengan penyelenggaraan perjalanan umrah.

Ketika Tangan-tangan Berbeda Keyakinan Saling Berbagi 