Warta

Sultan: Zakat Bantu Kurangi Kemiskinan, Dorong Kemandirian Masyarakat

catrawarta.com — Zakat terbukti memiliki kontribusi signifikan dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan pendapatan. Di samping itu, zakat mendorong kemandirian ekonomi jangka...

Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X.

catrawarta.comZakat terbukti memiliki kontribusi signifikan dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan pendapatan. Di samping itu, zakat mendorong kemandirian ekonomi jangka panjang di berbagai negara Muslim.

”Artinya, zakat bukan hanya ibadah personal, tetapi juga instrumen transformasi sosial. Ia memenuhi kebutuhan dasar mustahik, sekaligus membuka ruang bagi program produktif yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan,” papar Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X.

Ia menyampaikan pendapatnya itu dalam kegiatan ”Zakat Keteladan Pemimpin Daerah” di Bangsal Kepatihan, Kantor Gubernur DIY.

Di depan peserta kegiatan, Sultan menjelaskan, sakat bukan sekadar kewajiban syariat, melainkan jalan penyucian – tazkiyatun nafs wa tazkiyatul mal. Di dalamnya terkandung dimensi spiritual dan sosial sekaligus. Ia adalah social support dari umat kepada umat, sebuah sistem distribusi kesejahteraan yang ditopang oleh iman dan ditegakkan oleh kepedulian.

Memperkuat Ketahanan Ekonomi

Lembaga zakat, jelas Sultan, yang dikelola secara strategis terbukti mampu memperkuat ketahanan ekonomi dan keberlanjutan hidup kelompok rentan melalui intervensi yang terencana.

Bahkan kajian sistematis menunjukkan bahwa zakat berdampak pada peningkatan kondisi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan penerima manfaat, meskipun implementasi program produktif tetap memerlukan penguatan tata kelola agar optimal.

”Di tengah dinamika global yang rentan, ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial, dan fluktuasi harga, zakat hadir sebagai bantalan sosial berbasis nilai,” tandasnya.

Kendati demikian, agar daya ungkitnya maksimal, pengelolaan zakat perlu direposisi dari sekadar kewajiban ritual menuju instrumen muamalah yang fleksibel dan strategis, selaras dengan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Manajemen Pengelolaan Modern

Sultan menegaskan, karena itu, profesionalisme dan prinsip good governance menjadi keniscayaan. Transparansi, akuntabilitas, serta pemanfaatan sistem digital terbukti mampu meningkatkan efektivitas penghimpunan dan distribusi. Zakat harus dikelola dengan manajemen modern, tanpa kehilangan ruh spiritualnya.

Ia menyinggung, dalam khazanah Jawa, Serat Piwulang Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I mengajarkan tentang kèringaning sêsama, menjadi keringanan bagi sesama. Disebut pula, kang utama tansah ulah ingsih, manusia utama adalah yang senantiasa berbuat kasih. Ajaran ini sejalan dengan petuah Wedhatama: Amemangun Karyenak Tyasing Sasama.

”Karena itu, zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, melainkan laku peradaban, menghadirkan keringanan, menumbuhkan kasih, dan menyentosakan hati sesama. Harta bukan untuk ditimbun, melainkan untuk dihadirkan manfaatnya. Kesejahteraan sejati lahir ketika yang kuat menguatkan yang lemah,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *