catrawarta.com — Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang berada di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Kota Subulussalam merupakan hutan rawa gambut tersisa di Provinsi Aceh. Jika dihitung sejak 2020, dalam lima tahun terakhir Suaka Margasatwa Rawa Singkil kehilangan lebih dari 2.500 hektar tutupan hutan.
Rawa Singkil selama ini lebih dikenal sebagai habitat penting orangutan Sumatera. Yang banyak orang belum tahu, Rawa Singkil juga menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang belum terungkap dan berpeluang menjadi habitat penting bagi satwa liar langka di Sumatera. Salah satunya adalah fakta bahwa area ini juga menyimpan keragaman jenis burung.
Kawasan Trumon–Singkil ditetapkan sebagai Important Bird Area (IBA) oleh BirdLife International pada 2001, dengan cakupan sekitar 157.000 hektar. Ini termasuk sebagian kawasan Ekosistem Leuser (KEL).
Di sejumlah titik rawa dan tepian sungai, burung kuntul tampak mencari makan. Sesekali terdengar suara rangkong melintas di atas kanopi hutan. Ada juga jenis elang, raja udang, bangau, hingga burung migran yang singgah saat musim tertentu.
Ada tiga spesies kunci yang menjadi dasar penetapan IBA tersebut, yakni White-winged Duck atau itik sayap putih biasa juga disebut mentok rimba, lalu Storm’s Stork atau bangau storm, dan Lesser Adjutant atau bangau tongtong.
White-winged Duck (Asarcornis scutulata) merupakan itik hutan langka berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN. Populasi globalnya diperkirakan 150–450 individu dewasa.
Storm’s Stork (Ciconia stormi) merupakan spesies bangau hutan tropis berstatus Endangered dengan estimasi populasi sekitar 300–1.750 individu. Burung ini sangat bergantung pada hutan rawa gambut primer dan kawasan riparian dengan tutupan kanopi masih baik.
Spesies lain yang menjadi perhatian adalah Masked Finfoot (Heliopais personatus) atau pedendeng topeng, merupakan burung air langka Asia tropis yang berstatus Kritis.
Ujang Wisnu Barata, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, mengakui belum ada pendataan khusus burung di Rawa Singkil. Namun, tim patroli mencatat burung-burung yang ditemukan, meski belum spesifik.
Menurutnya survei khusus orangutan Sumatera sudah dilakukan. Pendataan keanekaragaman hayati secara umum sedang dilakukan sejak awal 2026. Selain itu
Ujang menambahkan, BKSDA Aceh juga fokus merestorasi hutan yang rusak dengan membangun tujuh pos pengamanan.

Perburuan Hewan Kurban Terus Meningkat, Dipastikan Stok Mencukupi 