catrawarta.com — Kasus kanker payudara masih menjadi ancaman bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Angka prevalensi kanker di DIY berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencapai 3,6 per 1.000 penduduk. Ini memerlukan penanganan serius sejak dini guna menyelamatkan masyarakat.
Selain itu, kasus kanker payudara menyerang penduduk dengan usia produktif. Mereka yang terpapar kanker payudara berusia 20-54 tahun.
”Penanganan kanker payudara menuntut pendekatan keperawatan yang berpusat pada manusia. Setiap individu memiliki perjalanan kanker yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang tidak hanya sebatas fisik,” ungkap Ketua Yayasan Kanker Indonesia Cabang Koordinator DIY, Gusti Kanjeng Ratu Hemas.
Ia menekankan untuk mengobati orangnya, jangan hanya penyakitnya. Kebutuhan pasien berbeda-beda, tidak hanya kebutuhan fisik, tetapi juga ekologis, spiritual, dan sosial.
Yogyakarta Kota Percontohan
Melihat kondisi tersebut, Kota Yogyakarta menjadi kota percontohan (pilot programme) nasional dalam penguatan kanker payudara. Langkah strategis tersebut ditandai dengan peluncuran Yogyakarta Breast Cancer Initiative (YBCI) yang di Auditorium FK-KMK UGM.
Menurut Hemas, faktor penting dalam keberhasilan program YBCI selain pelayanan medis adalah kehadiran pendamping yang mampu memberikan bantuan sesuai kebutuhan pasien. Melalui pendekatan kolaborasi dengan berbagai elemen, misalnya masyarakat, dapat membantu memberikan dukungan agar pasien kanker payudara dapat tuntas melakukan pengobatan medis.
Program YBCI merupakan model operasional dari Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Dalam pelaksanaannya, Kemenkes berkolaborasi dengan City Cancer Challenge Foundation (C/Can) serta menunjuk FK-KMK UGM sebagai Lead Implementing Partner.
Petakan Kondisi di Lapangan
Ketua City Executive Committee YBCI, Dr Kartika Widayati menambahkan inisiatif tersebut sangat krusial untuk memetakan kondisi riil di lapangan. Yayasan membantu mengidentifikasi gap sistem, memperkuat koordinasi layanan, dan menetapkan prioritas aksi yang implementatif serta dapat direplikasi di kota lain di Indonesia.
Ia menjelaskan, YBCI lahir dari program delapan bulan bertajuk City Engagement Process (CEFP). Pada tahap ini, fokus utamanya pada pembentukan struktur tata kelola untuk memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan. Struktur mencakup City Executive Committee (CEC) sebagai badan pengarah dan pengambil keputusan strategis yang beranggotakan pemerintah daerah, rumah sakit, akademisi, masyarakat sipil, dan perwakilan pasien.
Di bawah CEC akan dibentuk Breast Cancer Working Group (BCWG) yang terdiri atas para pakar teknis. Kelompok kerja terbagi ke dalam empat pilar utama, yakni manajemen dan mutu layanan kanker, layanan diagnosis, layanan pengobatan, serta akses komunitas dan pasien.
Dekan Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Prof Yodi Mahendradhata menekankan tantangan kanker payudara di Indonesia, tentu tidak bisa lepas dari persoalan sistemik yang menyangkut tata kelola, akses, literasi dan kebijakan.
”Dengan penetapan Kota Yogyakarta sebagai Horizon City pertama di Indonesia, program YBCI dapat menjadi model operasionalisasi Rencana Aksi Nasional di tingkat kota yang kontekstual, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Try Sutrisno, Jenderal Disiplin, Murah Senyum dan Ringan Menyapa 