Catra Cendekia

Try Sutrisno, Jenderal Disiplin, Murah Senyum dan Ringan Menyapa

catrawarta.com — Kabar duka itu datang di awal Maret, menyelimuti negeri yang pernah ia jaga dengan disiplin dan ketegasan. Try Sutrisno, Jenderal...

Try Sutrisno (sumber Disway)

catrawarta.comKabar duka itu datang di awal Maret, menyelimuti negeri yang pernah ia jaga dengan disiplin dan ketegasan. Try Sutrisno, Jenderal TNI (Purn.), Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, berpulang pada Senin, 2 Maret 2026. Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaiknya. Ia sosok  prajurit yang menjelma menjadi seorang negarawan, tanpa pernah benar-benar meninggalkan kesederhanaannya.

Lahir di Surabaya, 15 November 1935, Try tumbuh bukan dari keluarga berada. Ayahnya seorang sopir ambulans. Dari situlah barangkali ia mewarisi nilai sunyi tentang pengabdian, bekerja tanpa banyak bicara, melayani tanpa menuntut sorotan.

Pendidikan militernya dituntaskan pada 1959, membuka jalan panjang yang kelak membawanya ke pucuk kepemimpinan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yakni menjadi Panglima ABRI.

Kariernya di tubuh militer melesat, bukan karena sensasi, melainkan konsistensi. Ia dikenal disiplin, tegas, dan berintegritas. Dalam kultur militer yang keras, Try tetap menyimpan wajah yang hangat.

Ia murah senyum, ringan menyapa, dan tidak berjarak dengan prajurit maupun rakyat biasa. Citra itu melekat kuat, bahkan ketika ia memasuki gelanggang politik nasional.

Menjadi Wapres

Namanya sempat digadang-gadang sebagai figur yang layak menggantikan Presiden Soeharto. Namun sejarah mencatat jalan lain. Pada 1993, ia dipilih menjadi Wakil Presiden, mendampingi Soeharto hingga 1998—masa yang kemudian dikenang sebagai periode paling bergolak dalam perjalanan Orde Baru.

Di tengah pusaran kekuasaan, Try tidak berubah menjadi sosok yang gemerlap. Ia tetap bersahaja.

Ada kisah yang kerap beredar tentang rumah dinas yang diangsur hingga 15 tahun. Entah sepenuhnya legenda atau fakta administratif, cerita itu hidup karena terasa selaras dengan karakternya. Kesederhanaan bagi Try bukan citra, melainkan kebiasaan.

Sebagai Wakil Presiden, ia lebih banyak bekerja dalam senyap. Tidak gemar tampil mencolok, namun hadir ketika dibutuhkan. Loyalitasnya kepada institusi dan negara tak diragukan. Ia adalah representasi generasi prajurit yang dibentuk oleh semangat stabilitas dan pengabdian total.

Di ranah keluarga, ia adalah suami bagi Tuti Sutiawati dan ayah bagi tujuh anak. Beberapa di antaranya mengikuti jejaknya di dunia militer dan kepolisian, sebuah warisan yang bukan hanya berupa nama, tetapi juga nilai.

Kepergian Try Sutrisno menutup satu bab penting dalam sejarah kepemimpinan Indonesia. Ia bukan tipe pemimpin yang membangun monumen untuk dirinya sendiri. Jejaknya ada pada etos, disiplin, integritas, dan kesederhanaan.

Dalam dunia yang kerap bising oleh ambisi, Try pernah menunjukkan bahwa kekuasaan bisa dijalani dengan tenang tanpa kehilangan senyum, tanpa melepaskan akar. Selama Jalan Jenderal Try Sutrino…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *