catrawarta.com — Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Leo XIV mengecam penggunaan kekuatan militer oleh negara-negara yang ingin mencapai tujuan diplomatik. Ia juga mengungkapkan kelemahan organisasi internasional dalam menghadapi konflik global merupakan sangat mengkhawatirkan.
Paus menjelaskan diplomasi yang mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak sedang digantikan oleh diplomasi yang berbasis pada kekuatan. ”Perang kembali menjadi tren dan semangat untuk berperang semakin menyebar,” ujarnya.
Paus menegaskan hal itu dalam pidato ”State of World” pertamanya kepada para diplomat yang terakreditasi di Takhta Suci, Vatikan. Takhta Suci saat ini memiliki hubungan diplomatik dengan 185 negara dan organisasi internasional.
Akhiri Segala Konflik
Ini merupakan pertama kalinya ia menggunakan bahasa Inggris di depan para diplomat. Saat itu,ia fokus pada diplomasi harapan dengan menyoroti konflik bersenjata, konflik politik, ketidakadilan, terorisme, dan ketidakbebasan beragama di berbagai negara.
Paus juga menyerukan diakhirinya konflik seperti yang terjadi di Ukraina, Timur Tengah Afrika, Asia (Myanmar), dan juga di kawasan Karibia dengan secara khusus menyebut Venezuela.
”Saya ingin mengulangi permohonan mendesak, segera upayakan solusi politik yang damai dengan tetap memperhatikan kepentingan bersama seluruh rakyat dan bukan pembelaan kepentingan partisan,” tegas Paus.
Secara khusus Paus menyampaikan situasi di Venezuela. Ia menyerukan untuk menghormati kehendak rakyat Venezuela, dan melindungi hak asasi manusia dan hak sipil semua orang, serta memastikan masa depan yang stabil dan harmonis.
Soroti Konflik Myanmar
Dalam pidatonya Paus Leo XIV menyinggung situasi Asia Timur. Ia minta semua pihak tidak mengabaikan tanda-tanda meningkatnya ketegangan di Asia Timur.
Karena itu, ia berharap agar semua pihak yang terlibat akan mengadopsi pendekatan damai dan berbasis dialog terhadap isu-isu kontroversial yang menjadi sumber potensi konflik. Ketegangan di Asia Timur tinggi, terutama karena meningkatnya sengketa teritorial khususnya atas Taiwan, Laut Cina Selatan. Juga antara Thailand dan Kamboja.
Titik rawan utama lainnya termasuk program nuklir Korea Utara, klaim maritim yang melibatkan banyak negara yakni Tiongkok, Vietnam, Filipina, dan lainnya serta persaingan strategis yang lebih luas yang melibatkan AS, menciptakan lingkungan keamanan yang kompleks.
”Pikiran saya secara khusus tertuju pada krisis kemanusiaan dan keamanan yang parah yang melanda Myanmar,” imbuhnya.
Paus kembali menegaskan agar jalan perdamaian dan dialog inklusif dipilih dengan berani, sehingga dapat menjamin kesejahteraan semua orang.

Yaqut Ikut Seret Staf Khususnya – Alex Aktif Terbitkan Diskresi dan Distribusi Kuota Haji 