catrawarta.com — Penyebab kebakaran misterius yang berulang hingga 51 kali dalam sepekan di rumah warga di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, perlahan mulai menemukan titik terang. Tim dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta menemukan indikasi sumber gas metana yang diduga berkaitan dengan kemunculan api secara tiba-tiba di rumah tersebut.
Investigasi dilakukan pada Sabtu (30/05/2026) dengan menyisir area rumah warga sekaligus lingkungan di sekitarnya. Tim UPN mencoba menelusuri kemungkinan penyebab ilmiah di balik insiden yang membuat puluhan perabot rumah tangga terbakar tanpa sebab yang jelas selama beberapa hari terakhir.
Basuki Rahmad, Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta mengatakan kedatangan tim bertujuan untuk meninjau langsung kondisi di lokasi dan mengumpulkan temuan awal terkait fenomena tersebut.
Dikutip dari kompas.com, hasil penelusuran menunjukkan adanya indikasi sumber gas sekitar 300 meter dari rumah tersebut kemudian menemukan singkapan batuan yang memiliki genangan air disertai gelembung-gelembung gas yang diduga kuat berkaitan dengan keberadaan gas metana.
Sejauh ini, lokasi yang diduga menjadi sumber gas metana berada di bawah Jembatan Nepen. Tim peneliti juga melakukan pengujian sederhana menggunakan pipa paralon untuk melihat tekanan gas yang keluar. Berdasarkan pemeriksaan manual, tekanan gas disebut relatif rendah.
“Indikasi pertama karena masih indikasi awal, indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa. Jadi ini salah satu indikasi kuat batuan, wilayah ini dulunya memang bekas rawa. Ini batuannya warnanya gelap sebagai tempat bersinggahnya gas,” urainya.
Basuki menjelaskan, gas yang tersimpan di batuan jenuh dapat terus terlepas dan bergerak ke area lain. Saat proses migrasi terjadi, gas diduga menyebar hingga mencapai pemukiman warga. Selain itu, tim juga menemukan dugaan jalur patahan menuju arah utara yang kemungkinan menjadi lintasan perpindahan gas tersebut.
“Kami bersama tim akan terus memantau mungkin satu minggu, dua minggu perkembangannya seperti apa. Tapi intinya gas ini tidak berbahaya, secara manual tekanannya rendah,” ungkapnya.
Kasus kebakaran misterius ini sendiri pertama kali terjadi pada 23 Mei 2026 sekitar pukul 00.00 WIB. Pemilik rumah, Mutfiana, mengatakan sejak kejadian awal, api terus muncul di titik berbeda di dalam rumah. Meski begitu, keluarga korban menolak mengaitkan kejadian tersebut dengan hal mistis dan lebih memilih menunggu penjelasan ilmiah.
“Kalau menduga-duga (santet) aku enggak seiring. Ini tuh masih bisa diarahkan ke logis. Misalnya, gagang pintu ada handuknya, handuknya kan bisa menyimpan gas, bisa menimbulkan gas statis misalnya. Kalau dikait-kaitkan dengan hal mistis sepertinya masih susah di aku yang enggak paham tentang itu begitu,” ujarnya.
Peristiwa ini turut mempengaruhi kondisi psikologis keluarga korban. Rasa cemas dan ketidakpastian disebut terus menghantui penghuni rumah selama sepekan terakhir. Merespons kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Sleman akan memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga terdampak. Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama, menyatakan pihaknya siap memberikan dukungan sesuai kebutuhan korban.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, mengatakan Pemkab Sleman telah menyalurkan bantuan logistik pangan maupun nonpangan darurat melalui BPBD Sleman guna memastikan kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi.

Waisak Borobudur 2026 Diprediksi Lebih Ramai, Malam Lampion Tetap Jadi Magnet Utama 