catrawarta.com — Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika tinggi sepanjang Minggu (12/4/2026). Gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini tercatat beberapa kali mengeluarkan awan panas guguran dengan jarak luncur yang cukup signifikan.
Sejak pagi hari, awan panas guguran sudah terpantau meluncur dari puncak Merapi. Pada pukul 05.45 WIB, awan panas meluncur sejauh 1.500 meter dengan durasi sekitar 166 detik, mengarah ke hulu Kali Boyong. Aktivitas serupa kembali terjadi pukul 07.41 WIB dengan jarak luncur 1.400 meter dan durasi sekitar 132 detik, masih ke arah yang sama.
Tak berselang lama, pada pukul 08.21 WIB, Merapi kembali memuntahkan awan panas guguran yang kali ini mencapai jarak 2.000 meter dengan durasi lebih dari 154 detik, tetap mengarah ke hulu Kali Boyong. Menjelang malam, tepatnya pukul 18.25 WIB, awan panas guguran kembali terjadi dengan jarak luncur yang sama, yakni 2.000 meter, namun kali ini mengarah ke hulu Kali Sat/Putih dengan durasi sekitar 175 detik.
Aktivitas Vulkanik Merapi Tergolong Tinggi
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menyampaikan, berdasarkan hasil pemantauan, aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi dan didominasi oleh erupsi efusif. Meski demikian, status gunung masih dipertahankan pada level “Siaga”.
Ia menjelaskan, potensi bahaya saat ini meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya, khususnya di sepanjang aliran Sungai Boyong dengan jangkauan maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Selain itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak. Data pemantauan juga menunjukkan bahwa suplai magma masih berlangsung, yang berpotensi memicu kembali terjadinya awan panas guguran di dalam wilayah rawan.
Masyarakat pun diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya. Warga juga diminta mewaspadai dampak abu vulkanik serta potensi bahaya lahar dan awan panas, terutama saat hujan turun di sekitar kawasan Merapi.

Jogja Prima Fest 2026: Hidupkan Perekonomian dan Jajanan Lawas 