catrawarta.com — Suara kritis rakyat dan berbagai elemen masyarakat dibalas dengan teror, ancaman, intimidasi. Bukan hanya sekali, berkali-kali, menimpa siswa, mahasiswa hingga aktivis dan influencer. Dan sampai sekarang, tidak pernah terungkap siapa yang melakukan teror dan intimidasi.
Tidak terungkapnya para peneror bahkan pengancam penculikan membuat masyarakat menerka-nerka. Banyak yang menganggap peneror adalah bagian dari orang yang sangat ”kuat” sehingga tidak tersentuh hukum.
Kondisi tersebut membuat Sosiolog UGM, Dr Arie Sujito menilai Indonesia sedang menghadapi krisis berlapis seperti ekonomi, politik, dan demokrasi. Ciri-cirinya, guncangan kebebasan sipil dan menyempitnya ruang kedaulatan.
”Kondisi ini tidak bisa dianggap remeh karena sesungguhnya kita akan bisa menilai dan mendiagnosa tengah berada di level krisis,” ungkap Arie.
Ia menyampaikan pendapatnya dalam Orasi Epistemologi bertajuk ”Kebebasan Epistemik sebagai Pilar Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, di University Club UGM dan zoom.
Isu Penting Terpinggirkan
Ia juga menyoroti kemerosotan ruang publik yang kian dipenuhi pergunjingan dangkal dan wacana tidak bermutu, sementara persoalan fundamental seperti kerusakan lingkungan, pelanggaran HAM, dan ketimpangan sosial justru terpinggirkan.
Menurutnya, kondisi tersebut sebagai diskursus yang ”makin kumuh” dan perlu diinterupsi melalui peran kampus sebagai elemen penting masyarakat sipil.
Lantas apa yang harus dilakukan? Arie menyerukan perlunya ”radical break” atau dekonstruksi radikal terhadap epistemologi gerakan pasca-reformasi. Refleksi ini bukan untuk meromantisasi masa lalu reformasi 1998, melainkan untuk membaca capaian dan kemerosotan demokrasi yang terjadi selama lebih dari dua dekade.
Ia melihat ada kenyataan paradoks gerakan masyarakat sipil dan sisi semakin militan melawan tren otokrasi, tetapi di sisi lain perilaku kekuasaan semakin tebal terhadap kritik publik.
Kebebasan berpendapat era sekarang, imbuhnya, bukan sekadar kebebasan akademik formal, melainkan ruang bagi lahirnya subjek yang kreatif, cerdas, dan mandiri. Pengetahuan bukan hanya akumulasi teori, tetapi hasil tempaan pergulatan hidup yang mengandung nilai dan makna.

‘Aji Mandaya’ Perkuat Digitalisasi di DIY 