catrawarta.com — Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melakukan penanganan longsor di tanjakan Clongop, Padukuhan Plasan, Kalurahan Watugajah, Kapanewon Gedangsari, dengan pendekatan berbasis kajian ilmiah. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkab menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk meneliti penyebab dan tingkat kerawanan longsor di kawasan tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan selama tiga hari. Tim gabungan melakukan survei lapangan dengan mengkaji berbagai aspek, seperti kelembaban tanah, struktur geologi, serta potensi pergerakan tanah di lokasi. “Kami menggandeng BRIN dan UGM untuk melakukan riset terkait longsoran di Clongop. Selama tiga hari tim melakukan survei lapangan guna mengkaji kondisi tanah dan potensi longsor,” ujarnya.
Data yang terkumpul selanjutnya akan dianalisis secara ilmiah dan dijadikan dasar dalam menentukan langkah mitigasi, baik yang bersifat preventif maupun penanganan permanen. Menurut Purwono, hasil kajian ini penting untuk mengidentifikasi faktor utama penyebab longsor, sehingga penanganan yang dilakukan bisa lebih tepat sasaran.
Ia juga menambahkan, hasil penelitian nantinya akan dikoordinasikan dengan Pemerintah Daerah DIY, mengingat jalur Clongop merupakan jalan provinsi. Meski demikian, secara administratif wilayah tersebut berada di Gunungkidul, sehingga tetap menjadi perhatian pemerintah kabupaten.
Pendekatan Ilmiah Lengkapi Pengalaman Kebencanaan
Purwono mengakui, pendekatan ilmiah ini melengkapi pengalaman kebencanaan yang selama ini dimiliki BPBD. Terlebih, longsor yang terjadi saat Ramadan lalu diikuti delapan kali longsor susulan, sehingga diperlukan evaluasi secara komprehensif. “Ini menjadi penggabungan antara pendekatan sains dan pengalaman kebencanaan di lapangan,” ujarnya saat memberikan keterangan pers, Senin (4/5/2026.
Sementara itu, Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto, mengatakan pihaknya turut mendampingi pelaksanaan riset tersebut. Ia menilai kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mengidentifikasi tingkat kerawanan longsor di wilayah Clongop. Tim melakukan observasi, pengambilan data, serta peninjauan titik-titik rawan sebagai bahan analisis ilmiah guna menentukan langkah mitigasi yang tepat. Pendampingan ini juga menjadi wujud sinergi antara pemerintah kapanewon, BPBD, lembaga riset, dan masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, khususnya saat musim hujan. “Keselamatan warga adalah prioritas, dan mitigasi bencana merupakan ikhtiar bersama,” tandasnya.

Perlahan, Ekonomi Aceh Tamiang Bangkit Kembali 