catrawarta.com — Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, Darusman, meninggal akibat terinjak gajah liar. Bukan sekali ini saja manusia mati akibat terjangan gajah.
Konflik manusia dan fauna terutama gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terjadi berkali-kali. Kondisi itu mendorong pemerintah daerah membangun pagar pembatas permanen.
Pembangunan pembatas bertujuan gajah liar tidak keluar hutan dan merusak perkebunan warga. Bahkan melalui surat edaran dari pemerintah, perlu penutupan sementara Objek Wisata Alam di Taman Nasional Way Kambas, kecuali untuk kegiatan penelitian, magang, dan pendidikan.
Konflik Terus Meningkat
Pakar Kedokteran Hewan Prof Raden Wisnu Nurcahyo berpandangan seiring berjalannya waktu, kejadian konflik antara manusia dan satwa liar terutama gajah terus meningkat.
”Pemerintah sesungguhnya telah membuat lokasi-lokasi untuk penanganan gajah jinak yang sudah dilatih untuk menangani gajah liar yang masuk pemukiman di daerah-daerah yang rawan konflik antara manusia dan satwa,” paparnya.
Hanya saja, persoalan yang timbul menjadi semakin kompleks, dan hal ini karena adanya permasalahan internal dan eksternal.
Eksternal berkaitan dengan konflik manusia dengan satwa dan perburuan liar gajah Sumatra untuk diambil gadingnya dan diperjualbelikan.
Risiko Perkawinan Keluarga
Permasalahan internal berkaitan dengan kondisi gajah yang ditangkap dan masuk ke dalam Pusat Latihan Gajah (PLG) yang dalam jangka waktu lama mempengaruhi keberagaman genetik dan struktur populasi karena keterbatasan aliran gen dan peningkatan ”genetic drift” serta risiko perkawinan sesama keluarga (inbreeding).
”Perbedaan asal usul gajah Sumatra yang berada di PLG juga dapat mempengaruhi keberagaman genetik dari satwa endemik Indonesia ini,” jelas Wisnu.
Ia mengatakan konflik gajah Sumatra di Way Kambas pada 2025 utamanya dipicu oleh penyempitan habitat, deforestasi, dan alih fungsi lahan di sekitar taman nasional yang mengurangi sumber pakan serta air.
Fragmentasi habitat memaksa gajah keluar ke pemukiman/perkebunan warga yang menimbulkan kerugian materiil, dan mengakibatkan konflik fatal, termasuk kematian warga dan gajah.

Mbah Sarmono 37 Tahun “Mikul” Jualan Soto Keliling Wonosobo 