catrawarta.com — Cara seorang pria buang air kecil (BAK) sering dianggap perkara remeh. Sementara praktik kencing menyentuh aspek fisiologis, higienitas, dan bahkan etika keagamaan. Berdiri atau duduk/jongkok dalam kencing bukan sekadar masalah kenyamanan. Buang air kecil berkaitan langsung dengan kualitas pengosongan kandung kemih, risiko penyakit, dan kebersihan lingkungan.
Tubuh manusia bekerja melalui koordinasi otot yang presisi. Proses berkemih melibatkan otot kandung kemih dan otot dasar panggul. Posisi tubuh menentukan apakah kedua komponen ini bekerja optimal atau tidak. Ketika seorang pria buang air kecil dalam posisi duduk atau jongkok, otot panggul dan punggung cenderung lebih relaks. Kondisi ini membuat aliran urine lebih lancar dan kandung kemih lebih tuntas dikosongkan.
Penelitian dari Leiden University Medical Centre menunjukkan bahwa posisi duduk memberikan hasil lebih baik, terutama pada pria dengan gejala saluran kemih bawah seperti pembesaran prostat. Posisi ini meningkatkan kekuatan aliran urine, mempercepat waktu berkemih, dan mengurangi sisa urine dalam kandung kemih. Sisa urine yang minimal menjadi faktor penting dalam mencegah infeksi dan pembentukan batu.
Penjelasan klinis ini sejalan dengan pandangan dr. Singgih E Prasetyo yang menyebutkan bahwa posisi jongkok dapat menyisakan volume urine sangat kecil, sekitar 25 cc. Volume sisa yang rendah ini penting karena urine yang tertinggal dapat menjadi media pertumbuhan bakteri. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan batu kandung kemih.
Sebaliknya, posisi berdiri menyimpan beberapa kelemahan. Tubuh tidak selalu stabil saat berdiri, terutama dalam kondisi tergesa atau lelah. Ketidakstabilan ini dapat memicu kontraksi otot dasar panggul yang justru menghambat aliran urine. Akibatnya, kandung kemih tidak sepenuhnya kosong. Retensi urine yang berulang menjadi faktor risiko gangguan saluran kemih, termasuk infeksi dan masalah prostat.
Masalah lain dari posisi berdiri terletak pada aspek higienitas. Aliran urine yang jatuh dari ketinggian menciptakan percikan mikro yang menyebar ke berbagai permukaan. Percikan ini membawa bakteri yang dapat menempel pada lantai, dinding, pakaian, bahkan kulit. Dalam jangka panjang, kondisi ini memperburuk sanitasi toilet dan meningkatkan risiko penyebaran kuman.
Sebaliknya, posisi duduk atau jongkok mengurangi percikan secara signifikan. Aliran urine lebih terkendali karena jarak ke permukaan lebih dekat. Lingkungan toilet menjadi lebih bersih, bau dapat diminimalkan, dan risiko kontaminasi menurun. Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kebiasaan ini berkontribusi pada pencegahan penyakit berbasis lingkungan.
Menariknya, temuan medis ini selaras dengan ajaran Islam mengenai adab buang air. Nabi Muhammad SAW memberikan teladan dalam menjaga kebersihan dan menghindari najis. Dalam hadis riwayat Sunan al-Tirmidzi, Aisyah RA menyatakan bahwa Rasulullah SAW biasa buang air kecil dalam posisi duduk (jongkok). Praktik ini mencerminkan kehati-hatian terhadap percikan najis serta upaya menjaga kesucian.
Riwayat lain dalam Sahih al-Bukhari menyebutkan bahwa Nabi pernah buang air kecil dalam posisi berdiri. Para ulama memahami hal ini sebagai bentuk kelonggaran dalam kondisi tertentu. Posisi berdiri diperbolehkan selama aman dari percikan dan tidak menimbulkan mudarat. Namun, posisi duduk atau jongkok tetap dianggap lebih utama karena lebih menjamin kebersihan.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 222 menegaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri. Prinsip ini menempatkan kebersihan sebagai bagian dari nilai spiritual. Dalam praktik sehari-hari, kebersihan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga dengan kesehatan dan kualitas hidup.
Dalam tradisi Islam dikenal konsep istibra’, yaitu memastikan tidak ada sisa urine setelah berkemih. Posisi duduk atau jongkok membantu proses ini berlangsung lebih sempurna. Tanpa istibra’ yang baik, sisa urine dapat menetes setelah selesai, yang tidak hanya mengganggu kesucian tetapi juga berpotensi menyebabkan iritasi dan infeksi.
Jika dilihat secara komprehensif, posisi berkemih memiliki implikasi jangka panjang. Pengosongan kandung kemih yang optimal membantu mencegah infeksi, pembentukan batu, dan gangguan prostat. Lingkungan yang lebih bersih juga menekan risiko penyebaran bakteri di ruang bersama.
Dengan demikian, pilihan posisi kencing bukan sekadar preferensi pribadi. Posisi duduk atau jongkok terbukti lebih efektif secara medis, lebih higienis secara lingkungan, dan lebih sesuai dengan adab keagamaan. Sementara posisi berdiri tetap diperbolehkan dalam kondisi tertentu, praktik ini memerlukan kehati-hatian ekstra.
Kesadaran terhadap kebiasaan sederhana ini penting dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan kecil dalam cara berkemih dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan individu dan kebersihan lingkungan. Pada akhirnya, kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh hal-hal besar, tetapi juga oleh kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dan benar.


Perkuat Kualitas & Integritas, SPAN-PTKIN 2026 Usung 13 Inovasi Strategis 