catrawarta.com — Tahun ini Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) melakukan penguatan fundamental, mulai dari pembaruan metode verifikasi rapor hingga integrasi data berskala nasional dalam penerimaan mahasiswa baru.
Panitia Nasional Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN) resmi memperkenalkan deretan inovasi besar untuk pelaksanaan seleksi tahun 2026. Langkah ini diambil untuk meningkatkan akuntabilitas, pemerataan akses pendidikan serta integrasi data nasional yang lebih baik.
Ketua Panitia SPAN-PTKIN 2026, Prof Dr Abd Aziz MPdI dalam siaram persnya, Minggu (5/4/2026), menyatakan, transformasi tahun ini fokus pada kolaborasi lintas sektor dan pembaruan metodologi seleksi.Salah satu terobosan utamanya adalah sinergi dengan Pusat Mendik (Pusmendik) Kemendikdasmen serta integrasi data dengan Sistem Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA).
“Tahun ini kami melakukan penguatan fundamental, mulai dari pembaruan metode verifikasi rapor hingga integrasi data berskala nasional. Kami ingin memastikan,a setiap siswa memiliki peluang yang adil melalui sistem yang transparan,” ujar Abd Aziz yang juga Rektor UIN Tulungagung ini.
Inovasi SPAN PTKIN Tahun 2026 meliputi Pelibatan Pusmendik Kemendikdasmen RI, Pelibatan Direktorat KSKK, Direktorat Pontren, Direktorat PTKI Kementerian Agama RI, Pelibatan Guru BK se Indonesia. Pelibatan Kantor Wilayah Kementerian Agama, Dashboard pemantauan Satuan Pendidikan, Peminat, dan PTKIN, Pemetaan Kesehatan Mental dan Pembaruan metode seleksi berbasis pemerataan Satuan Pendidikan
Kemudian, Integrasi data dengan TKA, Integrasi data dengan SNPMB, Pembaruan metode verifikasi rapor,prestasi akademik, prestasi non-akademik dan tahfidz, Pembaruan Metode dan Formula Skoring, Pembaruan Formula Index Sekolah dan Survei Minat Siswa Satuan Pendidikan dibawah Kemenag RI terhadap PTKIN
Dimensi Baru dalam Proses Seleksi
Selain aspek teknis, SPAN-PTKIN 2026 juga memperkenalkan dimensi baru dalam proses seleksi, yakni pemetaan kesehatan mental bagi calon mahasiswa. Inovasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran kesiapan psikologis siswa dalam menempuh pendidikan tinggi. Penguatan juga dilakukan di level akar rumput dengan melibatkan Guru BK (Bimbingan Konseling) di seluruh Indonesia serta Kantor Wilayah Kementerian Agama untuk memastikan sosialisasi dan pendampingan pendaftaran berjalan optimal.
Dari sisi manajerial, Panitia Nasional meluncurkan Dashboard pemantauan real-time untuk memantau data Satuan Pendidikan, jumlah peminat, hingga sebaran di tiap PTKIN. Sistem penilaian pun mengalami perombakan melalui pembaruan Metode dan Formula Skoring serta Formula Indeks Sekolah yang lebih akurat.
Menanggapi perubahan besar ini, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Prof Dr Phil Sahiron MA, menegaskan, inovasi ini merupakan bentuk komitmen Kementerian Agama dalam menjaga mutu lulusan PTKIN.
“Keterlibatan berbagai pihak, Kanwil, Direktorat KSKK, Direktorat Pontren dan Direktorat PTKI, menunjukkan, seleksi ini adalah kerja kolaboratif untuk menjaring talenta terbaik dari Madrasah, Pesantren, maupun Sekolah Umum. Pembaruan metode seleksi berbasis pemerataan satuan pendidikan akan meminimalisir kesenjangan akses antarwilayah,” jelas Sahiron.
Dengan berbagai inovasi ini, SPAN-PTKIN 2026 diharapkan dapat menjadi standar baru dalam seleksi masuk perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga inklusif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pendidikan.

Kadin DIY Perkuat Sinergi, Optimalkan Potensi Ekonomi Kreatif dan UMKM 