Warta

Kemenag DIY Siapkan 217 Rumah Ibadah Ramah Pemudik

catrawarta.com — Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyiapkan sebanyak 217 rumah ibadah ramah pemudik untuk mendukung kelancaran arus...

Salah satui masjid yang disiapkan ramah pemudik di wilayah Kabupaten Kulonprogo. (Istimewa)

catrawarta.comKantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyiapkan sebanyak 217 rumah ibadah ramah pemudik untuk mendukung kelancaran arus mudik tahun 2026. Program ini bertujuan menyediakan tempat istirahat sekaligus ruang ibadah yang aman dan nyaman bagi masyarakat yang melakukan perjalanan jauh.

Kepala Kanwil Kemenag DIY, Ahmad Bahiej, menjelaskan bahwa ratusan rumah ibadah tersebut terdiri dari 195 masjid, 12 gereja Katolik, 7 gereja Kristen, 2 vihara, dan 1 pura.

“Tahun 2026 ini, Kementerian Agama DIY menyiapkan 217 rumah ibadah ramah pemudik. Ini merupakan bentuk pelayanan keagamaan yang inklusif sekaligus kontribusi nyata dalam mendukung kelancaran arus mudik,” ujar Ahmad Bahiej, Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan, rumah ibadah tersebut berada di lokasi strategis yang mudah dijangkau pemudik, baik di jalur utama maupun jalur alternatif. Selain sebagai tempat ibadah, fasilitas ini juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang istirahat sementara.

“Kami berharap kehadiran rumah ibadah ramah pemudik ini dapat membantu masyarakat agar perjalanan mudik menjadi lebih aman, nyaman, dan tetap bernilai ibadah,” tambahnya.

Beberapa rumah ibadah non-masjid yang turut disiapkan antara lain Vihara Dharma Wijaya di Berbah, Sleman; Vihara Giri Dharma di Jatimulyo, Kulonprogo; serta Pura Girinata di Jalan Wonosari–Yogyakarta Km 7, Gading, Gunungkidul.

Semangat Kerukunan

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha Kemenag DIY, Abd Suud, menyatakan, program ini mencerminkan semangat kerukunan antarumat beragama di DIY. Berbagai rumah ibadah lintas agama turut ambil bagian dalam memberikan layanan kepada para pemudik.

“Ini adalah wujud nyata bahwa rumah ibadah hadir untuk melayani masyarakat. Semangat gotong royong dan kerukunan terlihat dari kesiapan berbagai rumah ibadah dalam memberikan layanan bagi pemudik,” jelasnya.

Untuk memastikan layanan berjalan optimal, Kanwil Kemenag DIY juga menyiapkan satu unit mobil operasional guna memantau langsung pelaksanaan program di lapangan.

“Tim kami akan melakukan pemantauan langsung agar layanan rumah ibadah ramah pemudik ini dapat berjalan dengan baik,” kata Suud.

Ia juga menjelaskan bahwa program ini merupakan inisiatif Kementerian Agama RI untuk menjadikan rumah ibadah sebagai ruang layanan publik bagi para musafir. Gagasan ini awalnya berasal dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, kemudian didukung oleh Ditjen Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha.

Rumah ibadah yang menjadi posko pemudik umumnya menyediakan berbagai fasilitas dasar, seperti toilet dan tempat wudu yang bersih, ruang istirahat, tempat salat, area parkir, serta air minum atau makanan ringan. Selain itu, masjid diharapkan dapat beroperasi selama 24 jam selama masa mudik.

Melalui program ini, Kementerian Agama berharap rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan spiritual, tetapi juga sebagai ruang pelayanan sosial bagi masyarakat, khususnya bagi para pemudik yang menempuh perjalanan jauh menuju kampung halaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *