catrawarta.com — Lonjakan mobilitas saat libur Natal dan tahun baru serta mudik Lebaran menjadi tantangan besar bagi pemerintah. Pola penanganan konvensional tidak lagi memadai untuk mengatasi penumpukan volume kendaraan yang terus meningkat setiap tahun.
“Pengelolaan mobilitas pada periode puncak liburan tidak bisa hanya mengandalkan langkah reaktif seperti pembukaan posko atau diskon tarif tol. Permintaan perjalanan yang menumpuk dalam waktu bersamaan kerap memicu kelebihan kapasitas infrastruktur,” papar Pakar Transportasi UGM dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral), Dr Dewanti.
Ia melihat permintaan perjalanan tetap terakumulasi di waktu yang sama, sehingga masalah kemacetan belum terurai, baik liburan Natal dan tahun baru maupun Lebaran.
“Pemerintah perlu mengoptimalkan strategi Transport Demand Management (TDM), antara lain melalui penerapan tarif tol dan parkir progresif di titik macet, pengaturan waktu perjalanan, hingga skema cuti bersama dan jam kerja fleksibel yang lebih terdistribusi,” saran Dewanti.
Program Mudik Gratis
Ia juga menyoroti efektivitas program mudik gratis yang dinilai belum berdampak signifikan terhadap pengurangan kendaraan pribadi. Dengan kuota sekitar 33.000 penumpang, program tersebut lebih bersifat simbolik dan bantuan sosial ketimbang instrumen strategis pengendalian permintaan perjalanan.
Menurut Dewanti, rendahnya minat masyarakat bukan hanya soal kuota, tetapi juga desain program yang belum sesuai kebutuhan, mulai dari rute, jadwal, integrasi moda lanjutan, hingga persepsi kenyamanan layanan.
Khusus untuk daerah wisata padat seperti Yogyakarta yang diprediksi menerima lebih dari lima juta wisatawan, Dewanti menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.
Pemerintah pusat dapat mendukung pembatasan kendaraan pribadi dan integrasi informasi perjalanan nasional, sementara pemerintah daerah fokus pada manajemen lalu lintas internal, parkir, serta penguatan angkutan pengumpan.
“Dengan strategi yang terkoordinasi, lonjakan mobilitas dapat dikelola lebih merata sehingga destinasi wisata tetap berjalan tanpa kelumpuhan transportasi,” tandas Dewanti.

Objek Wisata Pilihan, Gerbang Merapi Makin Diminati 