Warta

Kekerasan Seksual di Dunia Maya Terus Terjadi

catrawarta.com — Konten bernuansa kekerasan seksual pada anak-anak terus terjadi di dunia maya. Penyebaran konten tersebut tak dapat dibendung seperti halnya konten...

Person holding a smartphone and filming two girls in a hallway one girl looks distressed with her head down and hand to her hair
KONTEN: Ilustrasi konten kekerasan di dunia maya.(Foto: Freepik)

catrawarta.comKonten bernuansa kekerasan seksual pada anak-anak terus terjadi di dunia maya. Penyebaran konten tersebut tak dapat dibendung seperti halnya konten judi online.

Data dari National Center for Missing & Exploited Children tahun 2024 mencatat Indonesia peringkat ketiga negara dengan laporan eksploitasi seksual terbanyak mencapai 1,45 juta kasus. Jumlah yang luar biasa!

Melihat kondisi tersebut, Psikolog Klinis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Dr Indria Laksmi Gamayanti Psikolog mengungkapkan fenomena tersebut sebagai bentuk kekerasan serius terhadap anak.

Melalui siaran pers Humas UGM, kekerasan seksual bukan sekadar moralitas digital. Setiap gambar, video, atau rekaman yang menampilkan eksploitasi seksual anak merupakan bukti kejahatan sekaligus perpanjangan penderitaan bagi korban.

”Setiap materi tersebut tersebar, anak akan merasa seolah-olah mengalami viktimisasi ulang. Ini akibat kebebasan akses di ruang digital yang membuat konten kekerasan lebih mudah diproduksi, disebarkan, diperdagangkan, dan disembunyikan,” papar Gamayanti.

Pelaku dan Jaringan

Menurutnya, masyarakat perlu mengubah cara pandang mengenai kekerasan seksual terhadap anak. Anak tidak pernah dapat dianggap memberi persetujuan dalam situasi eksploitasi.

”Yang harus dimintai pertanggungjawaban adalah pelaku, jaringan penyebar, pembeli, pihak yang membiarkan, serta ekosistem digital yang gagal dalam melindungi anak,” tegasnya.

Ia menambahkan, dampak psikologis pada anak yang menjadi korban kekerasan seksual dapat muncul dalam jangka pendek maupun panjang. Pada jangka pendek, anak biasanya menunjukkan raut wajah ketakutan, gangguan emosi, hingga kesulitan tidur dan konsentrasi.

Sebaliknya, pada jangka panjang, dampaknya dapat berkembang menjadi kecemasan, depresi, hingga kesulitan membangun relasi. Pada kasus eksploitasi digital, tekanan psikologis cenderung lebih berat karena kekhawatiran konten yang akan terus beredar dan tidak pernah bisa hilang.

Gamayanti memberi solusi, ia menekankan pendekatan pemulihan yang berpusat pada keselamatan, trauma-informed, dan berpihak pada anak. Pastikan rasa aman pada anak. Dalam proses pemulihan, anak harus benar-benar aman dari pelaku, ancaman penyebaran, tekanan keluarga, serta pertanyaan yang menyalahkan korban.

”Secara klinis, intervensi yang sering direkomendasikan yakni terapi berbasis trauma, seperti Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF-CBT), yang membantu anak dan remaja mengelola respons emosional dan perilaku pascatrauma,” sarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *