catrawarta.com — Seorang laki-laki dewasa berinisal TYR, berusia 36 tahun menjadi korban pembunuhan berencana. Ia meninggal setelah mendapat penganiayaan dari orang tidak dikenal yang masuk ke rumah melalui pintu samping.
Tak ada saksi mata, tak ada yang mengetahui bagaimana persisnya pelaku melakukan pembunuhan di rumah korban yang berada di Sedayu, Bantul. Berbagai informasi menyebutkan, kejadian diduga pada pagi hari usai subuh.
Pelaku, seorang diri, memasuki rumah korban, langsung menuju ruangan tempat korban, istri dan anaknya tidur. Tanpa basa-basi, pelaku langsung mengayunkan parang berkali-kali ke tubuh korban dan istrinya yang mencoba melawan.
Usai melakukan aksi, pelaku keluar rumah begitu saja dan pergi meninggalkan lokasi bersama temannya yang sudah menunggu di luar. Mereka tancap gas mengendarai sepeda motor, meninggalnya korban yang berada dalam sakratul mau. Istri korban langsung keluar berteriak minta tolong.
Kekerasan di Rumah Pribadi
Peristiwa tersebut menambah daftar panjang aksi kriminal, pembunuhan di rumah pribadi yang merupakan ruang privat. Rumah yang harusnya tempat aman tetapi malah menjadi lokasi kekerasan yang berujung pada kematian.
Beberapa waktu sebelumnya, kejadian nyaris sama terjadi di Yogyakarta. Seseorang menjadi korban pembunuhan teman karena perselisihan yang kabarnya sudah selesai. Dendam pelaku ternyata masih membara hingga melakukan perbuatan keji, menganiaya korban dan meninggalkannya tanpa nyawa di kos-kosan,
Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto mengatakan pada kejadian di Sedayu, pelaku kemungkinan masuk melalui pintu samping yang kebetulan tidak dikunci. Dengan begitu, pelaku leluasa masuk ke rumah korba dan sekejap beraksi. Korban tidak berkutik. Aparat membawa jenazahnya ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan dan penyelidikan.
Pembunuhan Tanpa Perampokan
Sejumlah sumber menyebut kekerasan terarah atau targeted violence, bukan perampokan bermotif ekonomi. Pelaku sudah membidik korban yang bisa diduga mereka saling kenal. Motifnya, kemungkinan dendam pribadi karena tidak ada barang berharga yang hilang.
Kejadian seperti itu biasanya mereka saling kenal atau bahkan orang dekat. Mengapa demikian? Berdasarkan informasi, pelaku bisa bebas dan leluasa masuk ke rumah korban melalui pintu yang tidak dikunci. Ia sangat hafal lokasi, beraksi secara tepat sasaran dan menggunakan penutup muka.
Dari runtutan kejadian, pelaku dan korban bisa jadi menjalin relasi sosial pertemanan. Peristiwa semacam itu biasanya berawal dari kata-kata yang tidak pas dan membuat salah satu pihak tersinggung. Meskipun tidak ada amarah – karena keduanya saling kenal dan teman atau saudara – tapi ada dendam yang tersimpan begitu dalam.
Menunggu Kinerja Polisi
Polisi telah menjelaskan kejadian sesuai dengan fakta di lapangan. Kini, mereka pasti segera melakukan langkah-langkah untuk mengungkap kasus tersebut. Orang terdekat, jalinan relasi sosial pertemanan pasti menjadi sasaran penyelidikan.
Dalam berbagai peristiwa kriminal entah di ruang pribadi maupun pada tempat-tempay umum, polisi bisa segera mengungkap kasus demikian. Dengan catatan, tidak ada ”orang penting” yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung.
Keluarga tentu sangat berharap kasus segera terungkap. Mereka, terutama istri yang melihat kejadian di depan mata bahkan ikut menjaga suami, ingin pelaku segera ditangkap. Ia sekaligus menjadi saksi kunci karena mengetahui secara kasat mata.
Semoga aparat segera bisa menuntaskannya. Ketika pelaku segera ditangkap, ini menjadi penanda rasa aman masyarakat. Di samping itu, masyarakat tentu berharap ada langlah-langkah antisipatif supaya rasa aman semakin tumbuh dan kuat. Semoga!

Berada dalam Situasi ‘Risk-off’, Indonesia Perlu Penguatan Pilar Daya Saing 