catrawarta.com — Perundingan Amerika Serikat dan Iran di Pakistan tidak membuahkan hasil. Belum ada kata sepakat dari kedua pihak sehingga muncul kekhawatiran konflik bakal berlanjut.
Merespons kegagalan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman akan merealisasikan serangan total ke Iran. Hal itu tentu saja mengundang kekhawatiran dunia terjadinya perang yang lebih besar.
Melihat kondisi itu, pakar Diplomasi dan Hubungan Internasional Dr Ratih Herningtyas menilai narasi Trump tersebut tidak boleh ditelan mentah-mentah sebagai rencana aksi militer. Ia memandang ancaman lebih kepada strategi psikologis ketimbang rencana perang nyata.
”Trump banyak mengeluarkan pernyataan yang sifatnya bluffing atau ancaman. Dalam studi hubungan internasional, ini disebut diplomasi koersif, yaitu diplomasi melalui penekanan. Tapi belum tentu akan dilakukan,” paparnya.
Risiko Stabilitas Internal
Ratih mengungkapkan keputusan untuk melakukan penghancuran total pada Iran memiliki konsekuensi yang terlalu besar bagi stabilitas internal AS. Ia menilai Trump sedang memainkan kartu bargaining untuk memaksa Iran melunak dan bersedia kembali ke meja perundingan dengan syarat yang menguntungkan AS.
Menurutnya pasti ada kalkulasi politik dan ekonomi yang sangat hati-hati. Penghancuran total tidak akan dilakukan, tetapi penekanan dan ancaman penting sebagai strategi menggiring opini.
”Selain itu, Amerika juga harus memikirkan dampak jangka panjang terhadap eksistensinya sebagai superpower,” tandasnya.
Kendati demikian, ia tidak menampik kemungkinan adanya aksi militer terbatas. Ia mencatat adanya mobilisasi pasukan sebagai sinyal tekanan meskipun sebenarnya AS sangat trauma dengan keterlibatan perang yang menguras sumber daya seluruh negara.
Pengalaman Buruk Perang Darat
Ratih berpendapat langkah militer, terutama serangan darat, bukanlah opsi mudah. Negara tersebut mempunyai pengalaman buruk di Afghanistan dan Irak. Dampaknya sangat besar secara politik, ekonomi, maupun sosial.
Kebuntuan, imbuhnya, akan terus berlangsung hingga kedua belah pihak mencapai titik jenuh. Menggunakan pendekatan ripeness theory, negosiasi baru akan benar-benar terjadi saat biaya konflik sudah dirasa terlalu mencekik bagi kedua negara.
Mengenai dampaknya ke Indonesia, ia mengingatkan pemerintah harus tetap waspada terhadap dampak global, terutama pada sektor ketahanan energi.
”Apabila ketegangan di Teluk Persia memburuk, gangguan suplai minyak dunia bisa mengancam ekonomi nasional, sehingga diversifikasi energi menjadi langkah mendesak,” sarannya.
Hambatan dalam Perundingan
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Abbas Araghchi mengungkapkan kedua negara telah terlibat dalam perundingan dengan penuh itikad baik. Semua dilakukan untuk mengakhiri perang.
Ia mengatakan, ketika proses hampir mencapai titik akhir menuju kesepakatan, justru terjadi perubahan yang terus bergeser. Ada berbagai hambatan yang menghalangi kemajuan.
”Niat baik akan melahirkan niat baik. Permusuhan hanya akan melahirkan permusuhan,” tandas Abbas dalam pernyataannya di akun @iraninindonesia.

Breidel Gaya Baru Mengancam Pers Indonesia, Membunuh Nalar Kritis 