catrawarta.com — Situasi geopolitik terutama konflik di Timur Tengah karena belum berhentinya perang Iran mengakibatkan dunia menghadapi krisis energi. Ancaman krisis energi global sangat tergantung dari salah satunya distrisbusi minyak yang harus melalui Selat Hormuz.
Iran belum membuka sepenuhnya selat tersebut. Negara itu hanya mengizinkan sejumlah negara yang memang ”berteman” baik dengannya. Rusia dan Tiongkok merupakan negara yang mendapat prioritas melintasi Selat Hormuz. Begitu pula negara-negara seperti India, Pakistan, Bangladesh.
Pakar energi terbarukan UGM, Ahmad Agus Setiawan PhD beberapa waktu lalu pernah menyampaikan perang yang terjadi berdampak pada putusnya jalur distribusi logistic. Ini tentu memicu krisis energi global, bahkan diperkirakan lebih buruk dari yang pernah terjadi tahun 1970an.
Dampak nyata dapat dilihat di beberapa negara Asia. Sejumlah negara sudah menaikkan harga BBM sedangkan Pemerintah Indonesia tidak menaikkan khusus untuk BBM yang bersubsidi. Paling tidak, kenaikan harga tak bakal terjadi hingga akhir tahun 2026.
Bahkan untuk gas rumah tangga atau terkenal dengan sebutan gas melon yang bersubsidi ketika membeli di Koperasi Merah Putih hanya Rp 16.000. Ini jauh di bawah harga pasaran dan sangat membantu masyarakat.
Khusus BBM nonsubsidi sudah mengalami kenaikan cukup tinggi. Banyak pengguna mobil yang kemudian beralih ke mobil listrik karena penghematannya bisa hingga 80 persen.
Mengamankan Pasokan
”Di krisis geopolitik prioritas utama adalah security of supply, bukan harga. Jadi ya, mengamankan pasokan fisik jauh lebih krusial daripada sekadar menjaga harga. Kalau energinya tidak ada, harga murah pun tidak ada gunanya. Ini hal yang sangat penting untuk ke depannya,” papar pakar energi, Iwa Garniwa, seperti dikutip dari wartaekonomi.co.id.
Menurutnya, negara yang tidak punya kontrak jangka panjang, infrastruktur regasifikasi yang fleksibel, dan cadangan strategis, akan kalah bersaing. Padahal, energi sangat penting untuk sektor vital. Indonesia pernah mengalami ketika ada dua kapal membawa BBM yang akhirnya berbelok arah karena kemungkinan ada pembeli yang mau membayar lebih tinggi.
Ia menekankan dalam situasi yang bisa benar-benar berakibat krisis, paling utama adalah memiliki cadangan minyak yang cukup. Sementara itu soal harga dapat dilakukan setelah ada kepastian stok aman. Harga tentu dapat diatur dengan prinsip keadilan.
Ahmad Agus Setiawan menambahkan sejumlah negara tetangga, masyarakat Filipina telah memilih menerapkan alternatif mobilitas, yakni berjalan kaki. Indonesia menerapkan bekerja dari rumah tetapi tampaknya belum begitu efektif.
”Kalau kita mengikuti peta geopolitik, krisis seperti ini bukan hal yang baru. Perang itu selalu mencari sumber energi. Sementara, dunia ke depan berencana menekan produksi emisi. Ini akan sangat menyulitkan mereka yang tidak siap. Sehingga, kita perlu segera meninggalkan kenyamanan energi masa lalu, bergeser ke alternatif sumber energi lain,” tandas Ahmad seperti dalam keterangan tertulisnya.

Senjata Tersangka Penembak TNI Ternyata Rakitan 