Warta

Indonesia Terjebak Cost-Push Inflation, Ketergantungan Impor Membuat Rapuh

catrawarta.com — Lonjakan harga plastik yang mencapai 100 persen sepanjang tahun 2026 menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi nasional. Kondisi tersebut menjadikan...

Person uses a handheld barcode scanner to scan a row of plastic water bottles at a checkout or inventory station
Ilustrasi industri plastik.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comLonjakan harga plastik yang mencapai 100 persen sepanjang tahun 2026 menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi nasional. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia terjebak pada ”Cost-Push Inflation”.

”Fenomena yang sedang terjadi ini sebagai bentuk nyata cost-push inflation atau inflasi akibat kenaikan biaya produksi,” ungkap Pakar Ekonomi Energi, Dr Dessy Rachmawatie.

Menurut Dessy, plastik merupakan produk turunan petrokimia yang sangat bergantung pada fluktuasi sektor energi global. Kenaikan harga minyak dunia secara otomatis mengerek biaya produksi manufaktur, yang kemudian berdampak berantai pada kenaikan harga barang konsumsi di tingkat masyarakat luas.

“Plastik sangat bergantung pada sektor energi. Ketika harga minyak dunia meningkat, biaya produksinya ikut naik. Hal itu mendorong kenaikan harga secara luas di berbagai sektor terkait,” papar Dessy.

Faktor Eksternal Utama

Dinamika geopolitik, terutama ketegangan di Timur Tengah, menurutnya sebagai faktor eksternal utama. Gangguan pada jalur strategis seperti Selat Hormuz telah menyumbat distribusi energi global, yang berujung pada kelangkaan bahan baku dan lonjakan biaya logistik internasional.

Dessy menekankan, konflik di jalur perdagangan minyak utama tersebut langsung mentransmisikan tekanan harga ke pasar domestik.

“Dampaknya adalah terganggunya pasokan bahan baku plastik dan meningkatnya harga secara global yang dirasakan langsung oleh industri kita,” jelasnya.

Namun, persoalan bukan hanya datang dari luar negeri. Ia menyoroti struktur industri nasional yang masih rapuh karena tingginya ketergantungan pada impor. Saat ini, sekitar 50 hingga 60 persen kebutuhan bahan baku plastik dalam negeri masih harus didatangkan dari mancanegara.

Ketergantungan kronis tersebut membuat Indonesia tidak memiliki ruang untuk meredam guncangan pasar internasional. Akibatnya, setiap ada fluktuasi harga global, industri plastik nasional dan daya beli masyarakat langsung menjadi korban utama tanpa adanya proteksi harga yang memadai.

Gangguan Ekonomi Nasional

“Ketika harga plastik naik hingga 30–100 persen, bukan lagi sekadar isu sektoral, melainkan sudah berimplikasi pada stabilitas ekonomi nasional dan daya beli masyarakat,” tegas Dessy memperingatkan dampak sistemik dari kenaikan.

Sebagai solusi mendesak, pemerintah didorong untuk segera memperkuat fondasi industri hulu berbasis petrokimia di dalam negeri. Transformasi struktural dianggap satu-satunya jalan agar Indonesia tidak terus-menerus didikte oleh dinamika pasar energi global yang tidak menentu.

Penguatan kapasitas produksi domestik dinilai kunci untuk memutus rantai ketergantungan impor. Dengan kemandirian bahan baku, ekonomi nasional diharapkan memiliki ketahanan lebih kuat dalam menghadapi gejolak eksternal di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *