catrawarta.com — Pemerintah Indonesia terus mendorong percepatan hilirisasi industri nikel sebagai strategi meningkatkan nilai tambah komoditas dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
catrawarta.com – Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar kebijakan ekonomi, tetapi strategi jangka panjang.
“Kita tidak ingin lagi mengekspor bahan mentah. Nilai tambah harus dinikmati di dalam negeri,” ujar Bahlil dalam konferensi pers, Kamis (16/4).
Data Kementerian Investasi menunjukkan realisasi investasi sektor hilirisasi mineral terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada industri pengolahan nikel untuk baterai kendaraan listrik.
Indonesia saat ini menguasai lebih dari 20% cadangan nikel dunia, menjadikannya pemain kunci dalam transisi energi global.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul tantangan serius.
Ekonom dari CORE Indonesia, Piter Abdullah, mengingatkan bahwa hilirisasi harus diiringi kesiapan industri domestik.
“Kalau tidak diikuti penguatan teknologi dan SDM, kita hanya akan jadi tempat produksi, bukan pusat inovasi,” ujarnya.
Selain itu, isu lingkungan juga menjadi sorotan, terutama terkait dampak tambang terhadap ekosistem lokal.
Langkah hilirisasi kini tidak hanya diuji dari sisi ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan.

Waspadai Gejala Hemofilia pada Anak, Paling Mudah Bengkak pada Sendi 