Warta

Impor Mobil Pikap Tak Rasional, Tidak Berpihak pada Industri Nasional

catrawarta.com — Mobil pikap impor dari India sebagian sudah tiba di Indonesia. Pemerintah sudah melakukan pembayaran sebesar 30 persen dari nilai impor....

OTOMOTIF: Ilustrasi industri otomotif mampu membuat jenis mobil apa saja, termasuk pikap.(Sumber: gaikindo.or.id)

catrawarta.comMobil pikap impor dari India sebagian sudah tiba di Indonesia. Pemerintah sudah melakukan pembayaran sebesar 30 persen dari nilai impor. Hal itu sangat tidak rasional karena justru mematikan industri otomotif nasional.

Banyak pihak telah melakukan kritik mulai dari pengusaha, Kadin Indonesia, pelaku industri otomotif, akademisi, dan lainnya. Tapi ternyata sebagian mobil tersebut sudah ada di Indonesia.

”Kebijakan tersebut perlu dikaji ulang dari sisi rasionalitas ekonomi, dampaknya terhadap neraca perdagangan, hingga keberpihakannya pada industri dalam negeri,” tandas Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Ma’ruf SE MSi.

Tidak Harus Membabi Buta

Ia menegaskan satu program yang strategis tidak harus dijalankan secara membabi buta. Kebijakan strategis tetap harus dilaksanakan dengan rasionalitas ekonomi.

”Jangan hanya karena alasan program, lalu melakukan impor tanpa perhitungan matang. Tidak semua KDMP memerlukan spesifikasi kendaraan seperti itu,” ujar Ma’ruf.

Menurutnya, pengadaan dalam jumlah besar seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat industri otomotif nasional. Jika pesanan dialihkan kepada produsen domestik, dampaknya dinilai akan jauh lebih luas bagi perekonomian nasional.

Apabila produk sejenis dipesan kepada industri dalam negeri, akan jauh lebih memberikan nilai tambah. Ada peningkatan nilai tambah produksi, penyerapan tenaga kerja, serta penguatan rantai pasok bahan baku domestik. Bahkan, kebijakan tersebut bisa menstimulasi tumbuhnya industri-industri baru.

Dampak bagi Ekonomi Nasional

Menurut Ma’ruf, mekanisme pengadaan tetap dapat dilakukan secara terbuka melalui sistem lelang atau bidding dengan tetap mengedepankan semangat keberpihakan terhadap produk dalam negeri. Kebijakan yang rasional bukan berarti menutup kompetisi, melainkan memastikan bahwa dana publik memberikan dampak optimal bagi perekonomian nasional.

”Saat ini, kita sedang berupaya memosisikan diri agar tetap surplus, bukan surplus semu karena ekspor komoditas mentah, tetapi surplus yang sehat. Berapa triliun rupiah yang akan mengalir ke luar negeri jika impor ini dilakukan? Itu akan menggerus cadangan devisa kita,” jelasnya sambil geleng-geleng kepala.

Industri otomotif nasional berpotensi kehilangan peluang besar yang bersumber dari belanja publik. Dalam jangka panjang, hal tersebut dinilai bertentangan dengan semangat kemandirian ekonomi yang selama ini digaungkan pemerintah.

Dialog dengan Industri Nasional

Ma’ruf juga mengingatkan potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila impor besar-besaran tersebut direalisasikan. Peningkatan impor secara signifikan akan memengaruhi neraca pembayaran dan stabilitas cadangan devisa.

Ia menyarankan agar pemerintah meninjau ulang rencana impor tersebut dan segera berdialog dengan pelaku industri otomotif nasional guna mencari solusi yang lebih rasional dan strategis.

Langkah yang paling rasional secara ekonomi, tegasnya, membatalkan rencana impor lalu duduk bersama industri otomotif domestik. Bisnis tetap bisnis, tetapi harus memiliki ideologi dan idealisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *