Warta

Hari Braille Sedunia: “Akses Literasi, Inklusi Kebijakan, dan Peluang Nyata”

catrawarta.com — Hari ini dunia memperingati Hari Braille Sedunia, momentum global untuk menegaskan bahwa hak atas literasi dan akses informasi bagi penyandang...

Hari braille sedunia akses literasi inklusi kebijakan dan peluang nyata
Braille Perkuat Akses Literasi

catrawarta.comHari ini dunia memperingati Hari Braille Sedunia, momentum global untuk menegaskan bahwa hak atas literasi dan akses informasi bagi penyandang tunanetra bukan sekadar janji, tetapi bagian tak terpisahkan dari hak asasi manusia. Di Indonesia, peringatan ini makin relevan di tengah upaya memperkuat kebijakan inklusi, keterlibatan komunitas, serta terobosan teknologi yang semakin memperluas akses pendidikan bagi tunanetra. 

Seperti dipahami secara global, Louis Braille bukan hanya menciptakan sistem tulisan. Braille membuka jalur terobosan bagi jutaan manusia yang kehilangan penglihatan untuk ikut membaca, belajar, dan berkarya. Di Indonesia, kesadaran terhadap pentingnya Braille juga diangkat oleh pejabat daerah dan nasional. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagaimana dilansir Antara News menyatakan bahwa peringatan Hari Braille adalah momentum strategis untuk meningkatkan aksesibilitas di bidang pendidikan, teknologi, dan dunia kerja bagi tunanetra. 

Tak hanya itu, peringatan ini juga dimaknai sebagai dorongan untuk memperluas fasilitas literasi inklusif, termasuk dukungan terhadap guru, penyediaan buku Braille, fasilitas publik yang ramah tunanetra, serta peluang beasiswa untuk siswa tunanetra hingga jenjang perguruan tinggi. 

 Fasilitasi & Akses Karya Cipta

Tidak kalah penting, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) menegaskan ulang komitmen untuk memastikan akses karya cipta bagi penyandang disabilitas melalui implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2019. Peraturan ini memudahkan penyandang tunanetra untuk memperoleh, menggunakan, maupun mendistribusikan karya cipta dalam format Braille dan format akses lainnya tanpa hambatan hukum. 

Direktur Hak Cipta dan Desain Industri DJKI menekankan bahwa Hari Braille Sedunia adalah momentum untuk menyadarkan seluruh lapisan masyarakat bahwa akses terhadap informasi dan karya intelektual adalah bagian dari inklusivitas. Termasuk dalam era digital saat ini, teknologi menjadi jembatan agar penyandang tunanetra dapat terhubung dengan dunia pengetahuan yang lebih luas. 

Berbagai upaya konkret tercatat sepanjang tahun lalu dan menjadi inspirasi langkah Indonesia di 2026.Kementerian Sosial RI mengadakan kegiatan jalan sehat bersama komunitas tunanetra di Jakarta, memperlihatkan keterlibatan pemerintah pusat bersama masyarakat sipil untuk memperluas kesadaran publik mengenai kebutuhan dan potensi penyandang disabilitas. 

Produksi materi literasi Braille terus ditingkatkan. Sepanjang tahun 2024, Kemensos mencatat ribuan buku dalam format Braille telah tersedia untuk penyandang tunanetra di berbagai daerah, menunjukkan komitmen memperluas akses bacaan selain format digital.

Kurangnya Guru & Tenaga Terdidik 

Organisasi seperti BAZNAS bekerja sama dengan sektor swasta menyalurkan mushaf Al-Qur’an Braille kepada tunanetra, memastikan bahwa tidak hanya literasi umum, tetapi juga literasi keagamaan dapat diakses setara. 

Meskipun berbagai kebijakan dan kegiatan sudah berjalan, persoalan nyata masih menganga di berbagai daerah. Ketersediaan guru dan tenaga pendidik yang terlatih dalam Braille masih terbatas di banyak sekolah inklusif.

Distribusi buku Braille dan materi pendidikan masih belum merata, terutama di wilayah luar kota besar. Kesadaran dan pemahaman masyarakat umum terhadap kebutuhan tunanetra tetap perlu diperkuat agar inklusivitas bukan hanya menjadi slogan, tetapi praktik sehari-hari.

Peringatan Hari Braille Sedunia 2026 kali ini bukan sekadar memperingati sejarah penemuan tulisan Braille. Ia adalah seruan moral dan kebijakan untuk memastikan bahwa setiap warga negara termasuk penyandang tunanetra dapat mengakses pendidikan, informasi, dan peluang yang setara. Dengan dukungan lintas sektor pemerintah, komunitas, dan dunia usaha langkah kecil seperti produksi buku Braille, kompetisi literasi, hingga dukungan teknologi akses merupakan bagian penting dari perjalanan panjang menuju masyarakat yang benar-benar inklusif.

Di penghujung hari ini, semangat Hari Braille kembali menegaskan bahwa literasi bukan hak istimewa. Melainkan adalah hak universal yang harus terus kita perjuangkan bersama. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *