catrawarta.com — Gunung Merapi mengeluarkan awan panas guguran pada Sabtu (28/03/2026) pukul 17:40 WIB. Berdasarkan laporan catatan petugas, estimasi jarak luncur 1.000 meter dengan amplitudo maks 43,95 mm durasi 133,69 detik mengarah ke barat daya (hulu Kali Boyong).
Petugas pencatat, Yulianto melaporkan sejak pagi gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin tenang ke arah selatan. Suhu udara sekitar 19.3-20.9°C. Kelembaban 88-88.7%. Tekanan udara 871.8-914.5 mmHg.
Sebelumnya, pada siang hari terjadi hujan di puncak Gunung Merapi mulai pukul 12:32 WIB dengan curah hujan 3 mm, durasi 11 menit, dan intensitas 20 mm/jam. Yang perlu diwaspadai bahaya awan panas guguran di daerah potensi bahaya dan banjir lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
”Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya dan alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta mematuhi rekomendasi resmi,” tulis Yulianto.
Antisipasi Gangguan Vulkanik
Ia melaporkan, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Selain itu, mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Penambangan Diminta Berhenti
Rekomendasi untuk aktivitas penambangan di alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III harus dihentikan. Pelaku wisata direkomendasikan tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
”Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” jelas Yulianto dalam laporannya sembari menambahkan tingkat aktivitas Gunung Merapi saat ini pada Level III yakni siaga.
Sekilas catatan, Indonesia memiliki jumlah gunung api aktif sebanyak 127, terbanyak di dunia dan menduduki peringkat pertama dengan jumlah korban jiwa terbanyak. Dari 127 gunung api tersebut, hanya 69 gunung api aktif yang dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah aktif gunung api akan selalu memiliki ancaman bahaya. Di sinilah fungsi PVMBG sebagai pelayan publik terus melakukan monitoring atau pengawasan 24 jam terhadap gunung api aktif di Indonesia.

Menjaga Bakdo Sapi Tetap Lestari, Tradisi Desa Sruni Boyolali 