catrawarta.com — Warga lereng Gunung Merapi tepatnya di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, Jawa Tengah merayakan tradisi unik yakni Bakdo Sapi atau Lebaran sapi. Ratusan hewan diarak mengelilingi kampung, tak hanya sapi, namun juga kambing, serta domba. Hewan-hewan ini dikumpulkan di tengah jalan lalu diarak bersama.
Ketua panitia acara, Marjono mengungkapkan, arak arakan sapi selalu dirayakan setiap tanggal 8 di bulan Syawal. Perayaan bakdan sapi ini biasanya dilangsungkan berbarengan dengan lebaran ketupat. Pagi sebelum arak arakan ternak, warga melakukan kenduri ketupat di jalan kampung, lalu menyantap hidangan ketupat itu.
“Ini sebagai bentuk syukur masyarakat karena nikmat dari Tuhan. Mayoritas warga di sini menjadi peternak, jadi sebagai bentuk rasa syukur, diadakan lebaran ketupat sekaligus bakdo sapi ,” ujar Maryono, Sabtu (28/3/2026).
Sapi Dimandikan dengan Air Kembang
Sebelum diarak, sapi terlebih dahulu dimandikan menggunakan air kembang, serta diolesi wewangian. Menurut Marjono, perawatan tersebut dipercaya bisa membuat sapi birahi, lalu beranak, sehingga menambah rezeki.
Arak-arakan sapi sudah berlansung sejak ratusan tahun lalu. Tepatnya saat ajaran islam masuk ke Desa Sruni yang dibawakan oleh Kyai Anwar Siraj. “Jadi kalau sesuatu itu dimuliakan, ya mendukung dan menghadiahi apa yang memuliakan. Itu menjadi filosofi, siapa yang berbuat baik, dapat baik, kita berbaik kepada sapi, Sapi memberi kebaikan kepada kita,” ucapnya.
Dulunya, warga secara pribadi menggelar arak-arakan sapi, dengan mengarak keliling kampung sendiri-sendiri. Waktunya pun tidak berbarengan, tergantung pemilik ternak.
Tradisi arak-arakan sapi yang digelar secara bersama-sama, baru dimulai kurang lebih 25 tahun lalu. Saat ini, bakdan sapi sudah menjadi tradisi tahunan dan menjadi daya tarik warga hingga luar Boyolali.
Salah satunya Theresa, 22, warga Yogyakarta yang sengaja datang ke Sruni bersama beberapa kawannya. Dia mengaku mendapat informasi adanya tradisi lebaran sapi saat mendapat pekerjaan di Kota Solo.
“Memang sengaja mau lihat festival ini (Bakdan Sapi). Seru banget sih, jujur. Melihat sapi ada yang besar, ada yang kecil, senang rasanya,” ujarnya.
Dia mengaku baru kali ini melihat tradisi lebaran sapi. Dia berharap, tradisi ini bisa terus dilestarikan, karena bisa mempererat hubungan antar warga.
Saat perayaan, sapi diarak dibelakang gunungan hasil bumi dari warga sekitar. Setelah diarak, gunungan diserbu ratusan warga yang sudah menunggu.

Titik Terang di Selat Hormuz, Kapal Tanker RI Berpeluang Melintas 