Warta

FOMO dan Religiusitas Gen Z, Beneran Iman atau Ikut Tuntutan Sosial?

catrawarta.com — Generasi Z tumbuh di tengah dunia yang tak pernah benar-benar sepi. Notifikasi datang tanpa jeda, tren berganti dalam hitungan jam,...

Bukan sekadar takut ketinggalan tren fomo perlahan membentuk cara gen z melihat diri memilih aktivitas bahkan menjalani praktik keagamaan
Bukan sekadar takut ketinggalan tren, FOMO perlahan membentuk cara Gen Z melihat diri, memilih aktivitas, bahkan menjalani praktik keagamaan.

catrawarta.comGenerasi Z tumbuh di tengah dunia yang tak pernah benar-benar sepi. Notifikasi datang tanpa jeda, tren berganti dalam hitungan jam, dan kehidupan orang lain selalu tampak lebih menarik di layar.

Di ruang seperti itu, muncul satu fenomena yang semakin akrab: fear of missing out (FOMO).

Bukan sekadar takut ketinggalan tren, FOMO perlahan membentuk cara Gen Z melihat diri, memilih aktivitas, bahkan menjalani praktik keagamaan.


Ketika Religiusitas Bertemu Tekanan Sosial

Fenomena FOMO tidak lagi terbatas pada gaya hidup, tetapi juga merambah ruang spiritual.

Laporan sebuah radio nasional menunjukkan bahwa sebagian Gen Z menjalankan aktivitas keagamaan tidak semata karena kesadaran personal, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan tren digital. Praktik ibadah kerap menjadi bagian dari ekspresi sosial yang terlihat di media.

Dalam konteks ini, religiusitas mengalami pergeseran—dari yang bersifat internal menjadi lebih terbuka dan, dalam beberapa kasus, performatif.

Psikolog Jean Twenge dalam berbagai kajiannya menyebut bahwa generasi yang tumbuh bersama media sosial cenderung lebih rentan terhadap perbandingan sosial. Hal ini dapat memengaruhi cara individu memaknai pengalaman, termasuk dalam hal spiritualitas.

Ketika ibadah menjadi sesuatu yang “terlihat”, maka muncul tekanan baru: bukan hanya menjalankan, tetapi juga “menampilkan”.


Antara Kesadaran dan Keterjebakan

Namun, fenomena ini tidak sepenuhnya negatif.

Di satu sisi, keterbukaan digital justru membuat diskursus keagamaan lebih mudah diakses. Konten-konten religius berkembang pesat, menghadirkan ruang belajar yang lebih inklusif bagi generasi muda.

Banyak Gen Z yang justru menemukan jalan spiritualnya melalui media digital.

Namun di sisi lain, arus yang sama juga menciptakan standar baru—tentang bagaimana menjadi “cukup religius”. Tanpa disadari, spiritualitas bisa bergeser menjadi kompetisi sosial yang halus.

Fenomena ini mengingatkan pada konsep “liquid modernity” dari Zygmunt Bauman, di mana identitas, termasuk identitas religius, menjadi cair dan terus dinegosiasikan dalam ruang sosial yang berubah cepat.

Dalam kondisi ini, religiusitas bukan lagi sesuatu yang stabil, tetapi dinamis—dipengaruhi oleh interaksi, eksposur, dan tekanan sosial.


Pada akhirnya, Gen Z berada di persimpangan yang unik.

Mereka memiliki akses luas untuk memahami agama, tetapi juga menghadapi distraksi dan tekanan yang belum pernah dialami generasi sebelumnya.

FOMO menjadi tantangan sekaligus cermin: apakah praktik keagamaan lahir dari kesadaran, atau sekadar respons terhadap lingkungan?

Di titik ini, pertanyaan yang muncul menjadi lebih personal—bukan lagi tentang seberapa sering terlihat beribadah, tetapi seberapa dalam makna yang benar-benar dirasakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *