catrawarta.com — Pola promosi pariwisata Yogyakarta yang selama ini dinilai bertumpu pada destinasi reguler mulai diarahkan ke pendekatan baru. Melalui kegiatan Table Top, Jogja Istimewa Travel Exchange (JITEX) 2026 bertema ‘Culture Meet Nature’, pelaku pariwisata mendorong penguatan penjualan wisata berbasis budaya dan aktivitas.
Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD DIY Deny Chrisnanta mengatakan, selama ini budaya Yogyakarta kerap terpinggirkan oleh pelaku pariwisata, sehingga promosi wisata masih didominasi destinasi reguler tanpa penguatan aktivitas berbasis nilai budaya.
“Budaya Yogya ini sering dilupakan untuk dijual, sehingga mindset orang berwisata hanya mengangkat destinasi-destinasi reguler,” ujarnya di acara table top di Ballroom Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan minimnya penawaran wisata berbasis aktivitas, seperti budaya dan wellness, berdampak pada stagnasi kualitas wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Melalui JITEX 2026, para penjual wisata diarahkan menampilkan kekhasan budaya, atraksi tradisi hingga pengalaman berbasis aktivitas yang memiliki nilai tambah.
Pada kesempatan itu, beragam tradisi diperkenalkan secara langsung kepada para pembeli wisata, mulai dari Patehan atau tradisi minum teh khas kraton, Beksan yang ditampilkan secara kolosal di tengah peserta sampai Jemparingan yang sarat nilai-nilai filosofi.
Menurut Deny, respons para buyer menunjukkan, kekayaan tradisi Yogyakarta menjadi daya tarik tersendiri ketika dikemas sebagai pengalaman wisata. Mereka mengagumni ternyata Yogyakarta memiliki satu budaya yang luar biasa, bahkan tradisi minum teh pun dilakukan hingga kalangan Sultan.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata DIY Ellya Shari menuturkan, kegiatan seperti JITEX menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan promosi pariwisata daerah. “Meski kunjungan wisatawan pada libur Nataru lalu menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, promosi tetap harus diperkuat agar wisatawan tinggal lebih lama dan tak melupakan Yogya,” katanya.
JITEX 2026 berlangsung 3-5 Februari 2026 dengan rangkaian kegiatan budaya, table top dan familiarization trip di kawasan Merapi melalui rute berbeda. Konsep yang diusung menekankan pertemuan bisnis yang lebih fokus melalui sistem one-on-one antara buyer dan seller.
Pola promosi pariwisata Yogyakarta yang selama ini dinilai bertumpu pada destinasi reguler mulai diarahkan ke pendekatan baru. Melalui kegiatan Table Top, Jogja Istimewa Travel Exchange (JITEX) 2026 bertema ‘Culture Meet Nature’, pelaku pariwisata mendorong penguatan penjualan wisata berbasis budaya dan aktivitas.
Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD DIY Deny Chrisnanta mengatakan, selama ini budaya Yogyakarta kerap terpinggirkan oleh pelaku pariwisata, sehingga promosi wisata masih didominasi destinasi reguler tanpa penguatan aktivitas berbasis nilai budaya.
“Budaya Yogya ini sering dilupakan untuk dijual, sehingga mindset orang berwisata hanya mengangkat destinasi-destinasi reguler,” ujarnya di acara table top di Ballroom Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan minimnya penawaran wisata berbasis aktivitas, seperti budaya dan wellness, berdampak pada stagnasi kualitas wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Melalui JITEX 2026, para penjual wisata diarahkan menampilkan kekhasan budaya, atraksi tradisi hingga pengalaman berbasis aktivitas yang memiliki nilai tambah.
Pada kesempatan itu, beragam tradisi diperkenalkan secara langsung kepada para pembeli wisata, mulai dari Patehan atau tradisi minum teh khas kraton, Beksan yang ditampilkan secara kolosal di tengah peserta sampai Jemparingan yang sarat nilai-nilai filosofi.
Menurut Deny, respons para buyer menunjukkan, kekayaan tradisi Yogyakarta menjadi daya tarik tersendiri ketika dikemas sebagai pengalaman wisata. Mereka mengagumni ternyata Yogyakarta memiliki satu budaya yang luar biasa, bahkan tradisi minum teh pun dilakukan hingga kalangan Sultan.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata DIY Ellya Shari menuturkan, kegiatan seperti JITEX menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan promosi pariwisata daerah. “Meski kunjungan wisatawan pada libur Nataru lalu menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, promosi tetap harus diperkuat agar wisatawan tinggal lebih lama dan tak melupakan Yogya,” katanya.
JITEX 2026 berlangsung 3-5 Februari 2026 dengan rangkaian kegiatan budaya, table top dan familiarization trip di kawasan Merapi melalui rute berbeda. Konsep yang diusung menekankan pertemuan bisnis yang lebih fokus melalui sistem one-on-one antara buyer dan seller.

Bendung Ancol Siasat Sultan HB IX Selamatkan Rakyat dari Romusha 