Warta

Coronavirus Anjing, Bisakah Menular ke Manusia?

catrawarta.com — Berbagai negara mulai mewaspadai adanya virus yang berpotensi menjadi ancaman global. Ada virus nipah, ada pula Canine coronavirus (CCoV), atau...

VIRUS: Ilustrasi anjing sakit yang membuat dunia mulai was-was apabila terpapar coronavirus anjing.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comBerbagai negara mulai mewaspadai adanya virus yang berpotensi menjadi ancaman global. Ada virus nipah, ada pula Canine coronavirus (CCoV), atau coronavirus anjing. Nama virusnya nyaris serupa dengan SARS-CoV-2 yang pernah menjadi penyebab pandemi Covid-19.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof Tri Untari menjelaskan mutasi virus dari hewan agar bisa beradaptasi ke manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun dan seringkali memerlukan inang perantara.

”Pada virus dari anjing ini belum bersifat zoonosis, mutasi virus dari hewan agar bisa beradaptasi ke manusia membutuhkan waktu lama. Bahkan sebenarnya zoonosis dari anjing ke manusia sangatlah sulit terjadi,” ungkap Untari.

Reseptor Coronavirus Anjing Berbeda

Menurutnya, coronavirus pada anjing mempunyai reseptor yang berbeda dengan virus Covid pada manusia. Canine coronavirus terutama menggunakan reseptor Aminopeptidase N (APN) atau CD13, saluran pencernaan sebagai targetnya. Meskipun ada Canine coronavirus type respirasi yang menyerang saluran respirasi tetapi menggunakan reseptor lain.

Berbeda dengan virus Covid-19 pada manusia yang menggunakan reseptor Angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2), yang terdapat pada saluran pernapasan.

”Virus dari hewan untuk menjadi zoonosis, tidaklah mudah, karena harus ada kecocokan reseptor, tropisma sel, dan enzim protease hospes agar virus bisa menempel, masuk dan bereplikasi, kemudian dapat diekskresikan dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi manusia,” papar Untari.

Perbedaan struktur molekul virus dan reseptor tersebut mengakibatkan virus dari anjing tidak mudah menginfeksi sel manusia.

Coronavirus Anjing Menyerang Pencernaan

Untari mengungkapkan bahwa coronavirus pada anjing bersifat tipe enterik atau menyerang pencernaan, menular lewat jalur fekal-oral bukan lewat pernapasan seperti halnya Covid-19 pada manusia.

”Pada prinsipnya virus dari anjing ke manusia untuk dapat menjadi zoonosis, perlu adaptasi dan biasanya perlu waktu yang lama,” tandasnya.

Ia membeberkan, jika ada anjing yang dites secara serologis positif COVID-19, yang dihubungkan dengan pemiliknya yang pernah sakit Covid-19, hal tersebut hanya menunjukkan bahwa anjing pernah terpapar dan mempunyai respon antibodi, tetapi belum dapat dikatakan zoonosis.

Apalagi didukung oleh hasil tes PCR-nya negatif, yang membuktikan virus tidak bereplikasi dan tidak bisa ditularkan. Jadi, coronavirus dari anjing masih jauh untuk menjadi zoonosis, karena harus bermutasi atau beradaptasi ke manusia.

Tidak Seperti Covid-19

”Masyarakat jangan langsung percaya dan menelan mentah-mentah informasi tentang zoonosis yang seolah olah dapat menyebabkan pandemi seperti Covid-19,” pinta Untari.

Ia menegaskan, mutasi virus dari hewan agar bisa beradaptasi ke manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun dan seringkali memerlukan inang perantara.

”Tidak perlu takut memelihara hewan peliharaan asalkan dipelihara dengan managemen yang benar, seperti menjaga kebersihan kandang, memberikan pakan yang baik, dan vaksinasi,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *