Warta

Cegah Kebakaran Hutan, Perlu Modifikasi Cuaca untuk Pembasahan Lahan

catrawarta.com — Pemerintah Indonesia melakuka upaya siaga penuh menghadapi ancaman fenomena El Nino Godzilla yang diprediksi akan berlangsung pada semester kedua tahun...

A vast field of harvested corn with dry husks scattered on the soil a horizon line with trees and distant buildings under a blue sky with clouds
Ilustrasi kekeringan mengancam wilayah Indonesia.(Sumber: wirestock/Freepik)

catrawarta.comPemerintah Indonesia melakuka upaya siaga penuh menghadapi ancaman fenomena El Nino Godzilla yang diprediksi akan berlangsung pada semester kedua tahun ini. Sejumlah daerah berpotensi terancam panas menyengat dan berkepanjangan sehingga rawan kebakaran.

Karena itu, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakuka kerja sama guna melakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Penandatanganan kerja sama dilakukan langsung oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani. Turut menyaksikan Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki beserta jajaran kedua instansi sebagai bentuk komitmen lintas sektoral.

Fokus utama kerja sama, optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menjaga kelembapan lahan di titik-titik rawan. Saat ini, operasi tersebut telah diaktifkan di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat sebagai langkah deteksi dini sekaligus pembasahan lahan sebelum memasuki puncak musim kering.

Lebih Baik Mencegah

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut OMC merupakan titik balik keberhasilan Indonesia dalam menekan angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, menjaga ekosistem tetap basah jauh lebih efektif dibandingkan melakukan pemadaman saat api sudah menjalar luas.

“Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Kita terus pantau tinggi muka air tanah, terutama di lahan gambut. Jika sudah di bawah 40 cm, kita segera lakukan OMC untuk re-wetting guna menjaga cadangan air tanah,” tegas Raja Juli dalam siaran pers melalui Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi.

Ia mengapresiasi presisi data yang disediakan BMKG, yang terbukti membantu penurunan angka karhutla secara kolektif dari tahun ke tahun. Ia mencatat adanya proses pembelajaran besar sejak peristiwa kebakaran hebat 2015, di mana tren luas kebakaran terus menurun signifikan pada periode 2019 hingga 2023.

”Bangsa kita adalah bangsa pembelajar, namun tahun ini intervensi kita, seperti ketepatan data dan OMC, akan sangat menentukan karena adanya ancaman El Nino yang nyata,” jelasnya.

Perlu Pendekatan Preventif

Selaras dengan hal itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan kerja sama mengedepankan pendekatan preventif. Berdasarkan pemantauan BMKG, musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih cepat dan berakhir lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga integrasi data menjadi harga mati.

“Tugas BMKG mendukung Kemenhut dalam pengendalian karhutla dan kekeringan. Kami tidak hanya bekerja secara kuratif saat api sudah menyala, tapi memperkuat aspek preventif melalui integrasi data untuk memprediksi titik rawan secara akurat,” papar Teuku Faisal.

Selain integrasi sistem informasi, BMKG telah berkoordinasi dengan Kemenhut untuk memasang Alat Operasional Utama (Aloptama) dan sensor meteorologi tambahan di kawasan hutan. Tujuannya, memperkuat keandalan data iklim nasional di lokasi yang sulit terjangkau secara geografis.

Melalui penguatan koordinasi antara instansi pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta dukungan aktif masyarakat, pemerintah optimistis dampak karhutla dapat diminimalisir. Kolaborasi menjadi perisai utama dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia di tengah ancaman perubahan iklim global tahun 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *