Catra Wisata

Glodok Awalnya dari ‘Grojok-grojok’ Pancuran Air

catrawarta.com — Setiap menjelang Imlek (perayaan tahun baru China), kawasan-kawasan pecinan banyak diungkap, karena memiliki kekhasan. Hampir di semua daerah di Indonesia...

Gapura di kawasan Pecinan Glodok Jakarta. (Foto Antara)

catrawarta.comSetiap menjelang Imlek (perayaan tahun baru China), kawasan-kawasan pecinan banyak diungkap, karena memiliki kekhasan. Hampir di semua daerah di Indonesia memiliki keunikan yang dihuni warga masyarakat keturunan Tionghoa itu.  

Salah satu yang ingin ditampilkan di sini adalah Kawasan Pecinan Glodok Jakarta. Daerah ini, bukan sekadar pusat perdagangan atau destinasi wisata kuliner, melainkan ruang hidup yang menyimpan sejarah panjang, ingatan kolektif serta dinamika budaya masyarakat Tionghoa peranakan di Jakarta.

Mendekati Imlek tahun ini, seperti dikutip dari Xinhua/Antara yang berkesempatan menelusuri jejak-jejak masa lalu bersama Elsa Novia Sena, seorang kreator konten Tionghoa peranakan yang aktif mengangkat sejarah dan budaya Tionghoa peranakan, menyusuri sudut-sudut Glodok sambil mengurai kisah tentang asal-usul kawasan, praktik keagamaan, hingga tradisi yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.

Asal Muasal Pecinan Glodok

Perjalanan dimulai dari gapura Pecinan Glodok, sebuah bangunan yang relatif baru tetapi sarat simbol. Gapura tersebut diresmikan tahun 2022 dan dibangun melalui inisiatif pihak swasta sebagai penanda kawasan bersejarah.

Di balik wujudnya yang kokoh dan modern, kawasan yang dilaluinya justru menyimpan cerita jauh lebih tua. Salah satunya adalah asal-usul nama Glodok, yang kerap dikaitkan dengan sebutan ‘Pancoran Glodok’.

Elsa menuturkan, menurut versi yang paling banyak dikenal, nama ini berasal dari pancuran air yang terbuat dari kayu.

Saat air mengalir dan jatuh, pancuran tersebut menimbulkan bunyi khas ‘grojok-grojok’.Pelafalan masyarakat Tionghoa pendatang pada masa awal, yang terdengar cadel, mengubah bunyi tersebut menjadi ‘gelodok’.

Nama Glodok kemudian melekat dan bertahan hingga kini, meskipun terdapat pula versi-versi lain dalam cerita lisan masyarakat.

Kawasan Pecinan Glodok tidak dapat dilepaskan dari peristiwa sejarah besar yang membentuknya, yakni Geger Pecinan tahun 1740. Peristiwa ini merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah Batavia, ketika ribuan warga etnis Tionghoa dibantai oleh pemerintah kolonial Belanda.

Perkiraan jumlah korban mencapai lebih dari 10.000 jiwa. Tragedi tersebut menjadi titik balik yang menyebabkan komunitas Tionghoa kemudian di pusatkan di kawasan di luar tembok Kota Batavia, yang kelak berkembang menjadi Pecinan Glodok.

Dari gapura, kemudian menyusuri destinasi berikutnya yaitu Kompleks Kelenteng Djin De Yuan, yang juga dikenal sebagai Wihara Dharma Sakti. Kelenteng ini merupakan salah satu yang tertua di Jakarta, didirikan sekitar pertengahan abad ke-17.

Sebelumnya, tempat ibadah ini dikenal dengan nama Kwan Im Teng, yang berarti tempat pemujaan Dewi Kwan Im. Bangunan ini sempat mengalami kebakaran hebat pada 2015 dan hingga kini masih dalam proses pemulihan, tetapi fungsinya sebagai pusat spiritual dan budaya etnis Tionghoa di Glodok tetap berjalan.

Kelenteng Tee Tjang Wang

Masih di dalam kompleks yang sama, kami juga menyambangi Kelenteng Tee Tjang Wang, yang dikenal sebagai tempat sembahyang leluhur dan penghormatan terhadap arwah. Pada waktu-waktu tertentu, seperti perayaan Imlek, Ceng Beng, dan Bulan Hantu, kelenteng ini dipadati umat yang datang untuk berdoa.

Tradisi penghormatan kepada leluhur diwujudkan melalui rangkaian doa serta pembakaran kertas persembahan, seperti uang dan perlengkapan simbolis, yang dilakukan di area khusus demi keamanan lingkungan sekitar.

Menariknya, kelenteng ini juga memiliki altar penghormatan bagi tokoh yang dianggap berjasa dan memiliki keteladanan moral.

Dalam tradisi kepercayaan Tionghoa, figur tersebut kerap berasal dari manusia biasa yang kemudian dihormati setelah wafat, sebagai wujud ingatan kolektif dan penghargaan atas nilai-nilai kebajikan yang mereka wariskan.

Jejak sejarah lintas iman terlihat jelas ketika menyambangi Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Bangunan ini pada awalnya merupakan rumah seorang kapitan Tionghoa, yakni pemimpin komunitas Tionghoa yang diangkat oleh pemerintah kolonial Belanda.

Rumah tersebut diperkirakan telah berdiri sejak pertengahan abad ke-19 dan memiliki arsitektur khas dengan atap melengkung, berbeda dari rumah tinggal pada umumnya.

Gereja Katolik

Pada paruh kedua abad ke-20, bangunan ini beralih fungsi menjadi gereja Katolik. Meskipun telah ditambahkan simbol salib, bentuk arsitekturnya yang menyerupai kelenteng kerap membuat orang keliru mengira bangunan ini sebagai tempat ibadah tradisional Tionghoa.

Di gereja ini pula, peserta diperkenalkan dengan filosofi simbol-simbol tradisional, termasuk sepasang singa batu yang diletakkan di bagian depan.

Singa jantan digambarkan memegang bola dunia sebagai simbol kepemimpinan dan kekuatan, sementara singa betina memegang anak sebagai lambang kelahiran dan perawatan. Penempatan keduanya mencerminkan keseimbangan Yin dan Yang, filosofi yang juga diterapkan dalam tradisi pernikahan hingga pemakaman masyarakat Tionghoa.

Posisi sepasang singa batu ini tidak pernah berubah, jantan di kiri dan betina di kanan dari arah depan. Hal ini selaras dengan konsep Yin dan Yang di mana perempuan dilambangkan sebagai energi lemah (Yin) dan laki-laki dilambangkan sebagai energi kuat (Yang), bagi mereka yang masih mengikuti kepercayaan Tionghoa, ketika ada pasangan yang melangsungkan sangjit (lamaran) atau pernikahan, posisi perempuan berada di kanan dan laki-laki di kiri, sama halnya dengan makam Tionghoa yang biasanya berukuran besar, karena dalam satu liang untuk sepasang suami istri, posisi suami berada di sebelah kiri dan istri di sebelah kanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *