Catra Milenia

Pentingnya Figur Ayah Untuk Cegah Child Grooming

catrawarta.com — Sebuah utas di media sosial memancing perhatian dan amarah netizen. Pemilik utas mempertanyakan integritas seorang pria, guru SD, yang mengunggah...

ilustrasi fatherless chil grooming. sumber: freepic.com

catrawarta.comSebuah utas di media sosial memancing perhatian dan amarah netizen. Pemilik utas mempertanyakan integritas seorang pria, guru SD, yang mengunggah beberapa konten tentang interaksinya dengan seorang murid perempuan. Ada indikasi tindakannya menjurus pada child grooming.

Anak diajarkan sejak kecil untuk menghormati orang dewasa. Guru adalah tokoh yang dianggap “baik”. Tapi jarang diajarkan satu hal penting bahwa harus berhati-hati ketika ada rasa tidak nyaman, meski tidak bisa dijelaskan alasannya. Dalam isu child grooming, perasaan tidak nyaman itulah alarm paling awal.

Child grooming bukan peristiwa, melainkan proses. Ia tumbuh pelan-pelan, melalui kelekatan emosional, perhatian personal, sentuhan yang “katanya” tidak berbahaya, dan relasi yang dibuat terasa istimewa. Anak tidak merasa sedang disakiti. Bahkan sering kali ia merasa dipilih. Itulah mengapa child grooming jarang disadari sejak awal baik oleh korban, orang tua, maupun lingkungan.

Dalam konteks figur guru, persoalan menjadi jauh lebih kompleks. Guru bukan sekadar orang dewasa. Ia adalah simbol kepercayaan, figur otoritas, dan bagi banyak anak, representasi orang tua kedua. Ketika seorang guru melampaui batas profesional -bukan dengan kekerasan, tetapi dengan keintiman-yang terjadi bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan pergeseran relasi kuasa.

Yang sering luput dibicarakan adalah kondisi batin anak itu sendiri. Banyak anak tumbuh dengan apa yang dalam kajian psikologi disebut emotional hunger. Mereka tidak kekurangan orang tua secara fisik, tetapi kekurangan kehadiran emosional yang konsisten. Di sinilah konsep fatherlessness menjadi penting untuk dibicarakan, bukan sebagai tuduhan, tetapi sebagai konteks.

Fatherlessness tidak selalu berarti ayah tidak ada di rumah. Dalam banyak keluarga, ayah hadir, tetapi jauh. Tidak terlibat dalam dunia emosi anak. Tidak menjadi tempat aman untuk bercerita. Tidak hadir sebagai figur yang mengajarkan batas tentang tubuh, tentang relasi, tentang apa yang pantas dan tidak pantas. Kekosongan ini tidak selalu disadari, tetapi dirasakan.

Anak yang tumbuh tanpa figur ayah yang emosional cenderung mencari validasi di luar rumah. Mereka lebih mudah melekat pada siapa pun yang memberi perhatian lebih. Dalam kondisi seperti ini, seorang guru yang terlalu dekat bisa terasa seperti jawaban atas kebutuhan yang lama tidak terpenuhi. Perhatian menjadi candu. Kedekatan menjadi pembenaran.

Yang berbahaya dari child grooming adalah ia mengajarkan anak definisi kasih sayang yang keliru. Bahwa cinta boleh membingungkan. Bahwa keintiman tidak perlu batas. Bahwa rasa tidak nyaman bisa ditekan demi menyenangkan orang dewasa. Semua ini membentuk pola relasi yang bisa terbawa hingga dewasa.

Kita sering bertanya, “Kenapa anaknya diam saja?” atau “Kenapa tidak menolak?” Pertanyaan itu sesungguhnya keliru arah. Anak-anak tidak memiliki perangkat psikologis yang cukup untuk memahami manipulasi relasi kuasa. Terlebih jika sejak awal mereka tidak pernah diajarkan seperti apa relasi yang sehat itu.

Gen Z tumbuh di persimpangan antara budaya lama yang permisif dan kesadaran baru tentang kesehatan mental. Kita mulai sadar bahwa tidak semua yang disebut “sayang” itu aman. Tidak semua kedekatan itu netral. Dan tidak semua figur dewasa pantas mendapat kepercayaan tanpa batas.

Maka membicarakan child grooming bukan soal sensasi, apalagi penghakiman. Ini soal keberanian kolektif untuk mengatakan bahwa batas itu penting. Bahwa profesi yang mulia tetap membutuhkan etika yang tegas. Dan bahwa anak-anak tidak boleh dijadikan objek afeksi, apalagi konten.

Fatherlessness tidak bisa dijadikan kambing hitam, tetapi mengabaikannya juga berbahaya. Ketika rumah gagal menjadi ruang aman emosional, anak akan mencarinya di luar. Dan tidak semua yang menyambut mereka datang dengan niat baik.

Pada akhirnya, pencegahan child grooming bukan hanya soal regulasi atau sanksi. Ia tentang kehadiran. Tentang ayah yang benar-benar hadir, ibu yang mendengar, guru yang menjaga jarak profesional, dan lingkungan yang berani bersuara ketika ada yang terasa tidak beres.

Karena anak-anak tidak pernah salah ketika mereka salah membaca kasih sayang. Kitalah orang dewasa yang bertanggung jawab memastikan bahwa apa yang mereka terima benar-benar aman, bukan sekadar terlihat hangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *