Catra Milenia

57% Gen Z Pilih Side Hustle, Apakah Tangga Karier Formal Tak Lagi Menjanjikan?

catrawarta.com — Ketika mayoritas generasi muda tidak lagi bermimpi duduk di kursi manajer, ada yang berubah dalam lanskap kerja kita. Apakah ini...

Ilustrasi pekerja Gen Z.

catrawarta.comKetika mayoritas generasi muda tidak lagi bermimpi duduk di kursi manajer, ada yang berubah dalam lanskap kerja kita. Apakah ini tanda turunnya ambisi, atau justru cermin dari sistem kerja yang tak lagi memberi kepastian?

Data mengungkapkan 57 persen Gen Z kini memiliki side hustle dan tak lagi menjadikan jabatan tinggi sebagai tujuan utama karier. Bagi banyak anak muda, fleksibilitas waktu, kebebasan mengelola proyek, dan tambahan penghasilan terasa lebih rasional dibanding mengejar promosi yang penuh tekanan.

Fenomena ini muncul di tengah ketidakpastian ekonomi, lonjakan biaya hidup, dan perubahan pola kerja pascapandemi. Di ruang-ruang digital, generasi muda melihat peluang membangun identitas profesional tanpa harus sepenuhnya bergantung pada struktur korporasi. Namun angka 57 persen bukan sekadar tren gaya hidup—ia adalah sinyal sosial.

Retaknya Janji Karier Formal?

Secara struktural, pasar kerja Indonesia masih menyisakan problem lama. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan dominasi sektor informal dan pekerjaan tanpa jaminan perlindungan sosial yang memadai. Dalam konteks seperti ini, mengandalkan satu pekerjaan utama terasa berisiko. Side hustle menjadi strategi diversifikasi penghasilan—bukan sekadar ekspresi kreativitas.

Menurut Dr. Bhima Yudhistira, Direktur CELIOS, tren ini harus dibaca sebagai respons rasional terhadap struktur ekonomi. “Generasi muda melihat mobilitas vertikal di banyak perusahaan makin terbatas, sementara beban kerja meningkat. Diversifikasi penghasilan adalah cara mengurangi risiko ketidakpastian,” ujarnya dalam berbagai analisis ketenagakerjaan.

Di level sosial-budaya, ini juga mencerminkan redefinisi makna sukses. Jika generasi sebelumnya mengukur keberhasilan dari jabatan dan status, Gen Z lebih menekankan otonomi dan keseimbangan hidup. Media sosial dan ekonomi digital memperluas horizon pilihan, membuat tangga karier konvensional tak lagi menjadi satu-satunya jalur.

Namun romantisasi fleksibilitas perlu dibaca hati-hati. Side hustle bisa berarti kreativitas, tetapi juga bisa menjadi tanda underemployment—pekerjaan utama yang belum cukup menjamin kesejahteraan. Jika pekerjaan formal tak memberi pendapatan layak atau jenjang jelas, wajar bila generasi muda mencari celah tambahan.

Di sinilah tantangan kebijakan muncul. Jika 57 persen Gen Z merasa perlu punya penghasilan sampingan, pertanyaannya bukan lagi soal etos kerja mereka. Pertanyaannya: apakah struktur upah, perlindungan sosial, dan desain organisasi kerja sudah cukup menjanjikan masa depan?

Masalahnya mungkin bukan pada ambisi generasi muda, melainkan pada janji sistem kerja yang perlahan kehilangan daya tariknya. Jika tren ini terus tumbuh tanpa pembenahan struktural, yang berubah bukan hanya cara Gen Z bekerja—melainkan relasi kepercayaan antara pekerja dan institusi itu sendiri. Dan di titik itulah, kita perlu bertanya: apakah tangga karier benar-benar masih menjanjikan, atau hanya warisan narasi lama yang tak lagi relevan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *