Catra Cendekia

Salah Pilih Jurusan Jadi Persoalan, Orangtua Jangan Paksakan Kehendak 

catrawarta.com — Keselarasan antara minat dan cita-cita  sebagian besar siswa SMA di Indonesia masih menjadi persoalan pelik yang belum tuntas. Tingginya intervensi...

Prof Dr Rahma Widyana MSi Psikolog (Istimewa)

catrawarta.comKeselarasan antara minat dan cita-cita  sebagian besar siswa SMA di Indonesia masih menjadi persoalan pelik yang belum tuntas. Tingginya intervensi keluarga serta orientasi pada prestise semata, disinyalir menjadi pemicu utama fenomena ‘salah jurusan’ di perguruan tinggi, yang berujung pada tidak optimalnya pengembangan karier anak di masa depan.

Kesimpulan tersebut ditegaskan Prof Dr Rahma Widyana MSi Psikolog, saat Pengukuhan Guru Besar Bidang Psikologi Pendidikan (Psikologi Sekolah) di kampus 1 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Selasa (7/4/2026).

Dalam orasi ilmiah tersebut, Prof Rahma membedah relevansi teori John Holland mencakup tipe realistik, investigatif, artistik, sosial, enterprising hingga konvensional untuk memotret tingkat kongruensi antara minat anak Indonesia dengan impian (daydream) mereka.

​”Berdasarkan tingkat kongruensinya, kesesuaian antara tipe minat dengan cita-cita sebagian besar anak di Indonesia masih berada pada kategori sedang atau moderate. Artinya, tingkat kesesuaiannya tidak terlalu tinggi,” terangnya.

Memilih Jalur Tertentu Karena Dorongan Keluarga

​Menurut Rahma, banyak siswa yang memilih jalur tertentu bukan karena panggilan jiwa, melainkan dorongan keluarga atau silau  status sosial. “Ada keinginan memberikan manfaat di suatu bidang, namun pilihannya tidak sinkron dengan tipe minat yang dimiliki,” tambahnya.

​Sebagai langkah konkret, selama lima tahun terakhir, Prof Rahma telah menginisiasi program pendampingan penelusuran bakat bagi siswa SMA, termasuk pemberian konseling bagi orangtua. Upaya  tersebut dilakukan untuk menggeser paradigma lama agar penentuan masa depan anak tidak lagi melulu soal keuntungan finansial atau gengsi. 

Pindah Jurusan di Tengah Jalan

“Dampak ketidaksesuaian itu mahasiswa merasa tidak nyaman, hingga akhirnya pindah jurusan di tengah jalan atau tidak optimal saat kuliah. Saat bekerja, mereka pindah haluan lagi karena bidang yang ditekuni bukan passion-nya,”tegas  Rahma.

Dalam kesempatan itu ia mengingatkan pentingnya kesadaran para orangtua untuk mengevaluasi pola pengasuhan yang cenderung memaksakan kehendak.

Menurutnya, orangtua harus mulai meninggalkan ego pribadi dan mendengarkan potensi anak.

​”Berikanlah alternatif yang sesuai dengan keinginan dan potensi anak, sehingga mereka merasa nyaman dan meyakini bahwa bidang tersebut adalah jalan hidupnya,” katanya penuh pesan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *