Catra Cendekia

Mungkinkah Konsultasi Psikologi Berbasis Artificial Intelligence?

catrawarta.com — Kesehatan mental menjadi isu besar generasi sekarang. Ini menjadi tugas bersama agar generasi sekarang dan mendatang lebih kuat menjaga kesehatan...

MENTAL: Giga Hidjrika Aura Adkhy menjelaskan cara kerja inovasinya, konsultasi psikologi memanfaatkan AI.(Foto: dok UGM)

catrawarta.comKesehatan mental menjadi isu besar generasi sekarang. Ini menjadi tugas bersama agar generasi sekarang dan mendatang lebih kuat menjaga kesehatan mentalnya. Sayangnya, pelayana kesehatan mental belum merata.

Nah, dari kisah seorang yang memiliki keluhan kesehatan mental, mahasiswa UGM berusaha melakukan sesuatu. Ia harus membantu temannya agar keluar dari persoalan mental dan kembali sehat jasmani rohani.

Mahasiswa itu, Giga Hidjrika Aura Adkhy dari Program Studi Teknologi Informasi Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi. Ia terinspirasi menciptakan inovasi berbasis artificial intelligence (AI). Gagasan muncul ketika ia sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa di University of Liverpool, Inggris, pada 2024.

Dirinya melihat seorang teman memiliki keluhan kesehatan mental dan dapat mengakses dengan mudah layanan psikolog di universitas tersebut. Layanan psikolog dapat diakses dengan mudah hanya melalui fasilitas percakapan melalui gadget.

Inovasi UGM-AICare

”Kondisi di sana berbeda dengan Indonesia. Jumlah layanan psikolog dengan mahasiswa yang membutuhkan masih timpang sehingga belum tercipta interaksi yang insentif seperti yang dilakukan di University of Liverpool,” papar Giga.

Berawal dari situlah, muncul ide menciptakan ”UGM-AIcare (Aika)”, yang didesain untuk menjadi teman berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, sehingga pengguna merasa seperti mengobrol dengan teman sungguhan.

Motivasi proyek UGM-AICare, selain untuk syarat kelulusan juga mendukung teman-teman mendapatkan pelayanan kesehatan mental yang baik.

Menurut Giga, salah satu keunggulan Aika adalah layanan berbasis percakapan teks yang menggali dan menganalisis keluhan psikologis pengguna untuk menentukan langkah tindak lanjut. Jika keluhan tergolong ringan, Aika dapat memberikan saran mandiri seperti teknik pernapasan atau istirahat cukup.

Namun apabila membutuhkan bantuan profesional, Aika langsung menghubungkan pengguna dengan psikolog. Berbeda dengan AI large language model (LLM) generatif yang cenderung pasif, Aika sebagai AI agent dapat bertindak lebih otonom dan berfungsi sebagai jembatan antara pengguna dan psikolog manusia.

Metode Kerja Psikolog

Ia memaparkan sistem Aika dikembangkan dengan pendekatan yang menyerupai metode kerja psikolog, yakni menggali permasalahan melalui percakapan untuk memahami kondisi pengguna. Berdasarkan interaksi tersebut, Aika akan menyusun rangkuman, penilaian awal, kemungkinan diagnosis, serta rekomendasi bantuan yang kemudian langsung diteruskan kepada psikolog.

”Aika memiliki tiga pengguna utama, yaitu mahasiswa sebagai pengguna layanan, psikolog atau konselor sebagai penerima laporan dan pemberi tindak lanjut, serta admin yang mengelola keseluruhan sistem,” jelas Giga.

Aika tidak menggantikan peran psikolog, melainkan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan konselor secara lebih cepat dan terarah, termasuk menghubungkan langsung ke psikolog apabila dibutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Giga berhasil mendapatkan pengakuan atas inovasinya ”UGM-AICare (Aika)” dengan meraih Juara Pertama (First Winner) dalam kategori ”Play Track” pada kompetisi bergengsi tingkat Internasional, EDU Chain Hackathon pada 2025 dengan hadiah total untuk pemenang sebesar 250.000 USD.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *