catrawarta.com — Seni tradisi ketoprak kembali digelorakan melalui upaya kreatif yang memadukan akar budaya dengan semangat kebangsaan. Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Penciptaan Karya Kreatif Inovatif” baru-baru ini digelar di Kantor Dinas Kebudayaan Bantul, menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah, akademisi, tokoh budaya, hingga pelaku seni ketoprak.
Kegiatan ini digagas Warsana SSN MSn, Dosen Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, yang juga merupakan penerima Program Pendanaan Indonesiana 2026 untuk kategori penciptaan karya inovatif yang digagas Kementerian Kebudayaan dan didanai LPDP. Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Yanatun Yunadiana, serta Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Sarjiman SIP.
Dalam FGD, Warsana didampingi penulis naskah Susilo Nugroho, atau yang akrab dikenal sebagai Den Baguse Ngarso, memaparkan konsep karya terbaru berjudul “Suryaning Baskoro: Ahmad Dahlan sebagai Metafora Cahaya dalam Kehidupan Bangsa.” Karya ini menghadirkan figur K.H. Ahmad Dahlan sebagai simbol pencerahan, diolah melalui metafora “cahaya” yang merepresentasikan perjalanan bangsa.
Ketoprak kreasi ini memadukan berbagai elemen pertunjukan, mulai dari dramaturgi, musik tradisional, ekspresi tubuh, hingga tata cahaya. Pendekatan intersemiotik tersebut diharapkan mampu menyampaikan pesan secara simbolik dan emosional, sekaligus memperkaya pengalaman estetis penonton.
Keunikan karya ini terletak pada kemampuannya menjembatani warisan budaya lokal dengan narasi nasional yang inspiratif. Nilai-nilai kejujuran, keberanian, keterbukaan, dan semangat pembaruan yang melekat pada sosok Ahmad Dahlan diolah menjadi struktur dramatik yang menghibur, edukatif, sekaligus reflektif.
Dalam penulisan naskah, Susilo Nugroho menghadirkan perspektif “orang luar,” sehingga makna sosok Ahmad Dahlan bisa ditafsirkan secara lebih universal. Selain itu, penggunaan biola sebagai medium musikal menjadi simbol ekspresi lintas budaya, tanpa meninggalkan esensi tembang ketoprak.
Tema pendidikan dan keagamaan menjadi benang merah, dengan penekanan pada dakwah yang inklusif, dialogis, dan harmonis. Hasilnya adalah naskah setebal 21 halaman dengan durasi pementasan antara 40–60 menit, dirancang sebagai ketoprak kreasi yang tetap menjaga unsur tradisional namun terbuka pada inovasi artistik.
Peserta FGD memberikan masukan konstruktif, termasuk pentingnya pemilihan pemeran yang tepat, penguatan unsur tembang, visualisasi tokoh yang lebih kuat, serta kemungkinan pengembangan karya menjadi serial. Diskusi juga menyinggung estetika penggunaan biola dalam konteks budaya ketoprak.
Menanggapi hal tersebut, Warsana dan Susilo menjelaskan bahwa penggunaan biola dimaksudkan untuk menghadirkan ekspresi universal, tetap selaras dengan tembang sebagai roh pertunjukan. Masukan terkait durasi, aspek visual, serta penguatan nilai religius dan kultural akan dijadikan bahan penyempurnaan dalam produksi selanjutnya.
Karya “Suryaning Baskoro” menjadi bukti bahwa ketoprak dapat bertransformasi menjadi media edukatif, reflektif, dan inspiratif, tanpa kehilangan akar tradisi.
Inisiatif ini sekaligus menegaskan bahwa seni tradisional tetap relevan sebagai ruang dialog kebangsaan dan sarana inovasi kreatif bagi generasi masa kini.

Investasi Rp17 Triliun untuk Sampah Jakarta, Negara Ubah Krisis Lingkungan Jadi Instrumen Ekonomi 