Catra Budaya

Radjiman, Dari Ruang Kemanusiaan ke Gerakan Kebangsaan

catrawarta.com — Para pendiri negara ini kebanyakan terdiri atas para cendekiawan yang ahli di bidangnya. Anehnya, bukannya mereka mencari kekayaan dan kekuasaan...

Makam krt radjiman wedyodiningrat di kalurahan sendangadi mlati sleman diy dok Catrawarta
Makam KRT Radjiman Wedyodiningrat di Kalurahan Sendangadi, Mlati, Sleman, DIY (Dok. Catrawarta)

catrawarta.comPara pendiri negara ini kebanyakan terdiri atas para cendekiawan yang ahli di bidangnya. Anehnya, bukannya mereka mencari kekayaan dan kekuasaan bersama Belanda, tetapi memilih jalan menanjak bersama rakyat terjajah untuk meraih kemerdekaan.

Satu di antaranya adalah Dr. Radjiman. Lahir dari kalangan rakyat biasa, anak Ki Sutodrono pada 1 April 1879. Soal tempat lahir ada beberapa versi. Saat penulis ziarah ke makamnya di Sendangadi, Mlati, Sleman, Jumat (29/5/2026) yang tak jauh letaknya dari rumah, tercatat lahir di Lempuyangan Kota Yogyakarta. Data tercatat pada tugu di bagian depan kompleks makam Wahidin Sudirohusodo dan dibuat Dinas Kebudayaan Sleman.

Sedangkan pada buku DR. K.R.T Rajiman Wedyodiningrat: Hasil Karya dan Pengabdiannya yang ditulis Drs. AT. Sugito, S.H., (untuk Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Depdikbud 1985/1986), Radjiman lahir di Desa Melati, Kampung Gelondongan, Kota Yogyakarta. Menilik lokasinya, kini menjadi Mlati Glondong, Kalurahan Sendangadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman.

Ki Sutodrono adalah bekas tentara Belanda KNIL, keturunan ke tujuh Kraeng Naba (saudara Kraeng Galesong yang sempat melawan Mataram bersama Trunojoyo). Visi Ki Sutrodono relatif maju, menginginkan anaknya bisa sekolah dan berpendidikan. Radjiman kemudian bisa sekolah di Tweede Europese Lagere School atau Sekolah Rendah Belanda di Yogyakarta. Lulus pada 1893, Radjiman pergi ke Batavia dan diterima di Sekolah Dokter Jawa. Berteman Sulaeman, anak Wahidin Sudirohusodo, menekuni sekolah dokter hingga lulus pada 22 Desember 1889.

Pada usia 20 tahun Radjiman sudah bergelar dokter Jawa dan pada 1899 diangkat sebagai Gubermen yang bekerja pada Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) yakni Rumah Sakit Umum Pusat di Batavia, kini menjadi RS Tjipto Mangunkusumo. Radjiman kemudian mengabdikan diri sebagai dokter di Banyumas, Purworejo, Semarang dan Madiun. Selama menjadi dokter itu, Radjiman melihat sendiri bagaimana penderitaan rakyat dijajah Belanda. Keprihatinan melahirkan kesadaran, kesadaran melahirkan gerakan.

Saat menjadi assisten leraar atau asisten guru di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada 1903-1904, Radjiman banyak berdiskusi dan berinteraksi dengan para mahasiswa dan tokoh pergerakan nasional. Sambil menjadi asisten, Radjiman memperdalam ilmunya di STOVIA dan memperoleh gelar Indisch Art (gelar untuk lulusan sekolah kedokteran pada masa Hindia Belanda) pada 1904. Lalu menikah dengan Rohani, gadis asal Pekalongan yang tinggal di Batavia. Radjiman kemudian melanjutkan pengabdian dan perjuangan kemanusiaan antara lain menjadi dokter di Malang dan Sragen.

Pada saat para mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi kebangsaan pertama Budi Utomo pada 20 Mei 1908, atas inspirasi Wahidin Sudirohusodo, Radjiman mendukung sepenuhnya. Dalam Kongres Budi Utomo di Yogyakarta pada 3 Oktober 1908, Radjiman menjadi salah satu narasumber. Beliau menyampaikan perlunya mengangkat peradaban Jawa. Bahkan kemudian tercatat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo (1914-1923). Radjiman juga terpilih sebagai anggota Volksraad (1918-1921) dari unsur Budi Utomo. Ada pergeseran orientasi hidup, dari ruang kemanusiaan ke gerakan kebangsaan.

Berkat pertemuannnya dengan Bupati Sragen KRMT Panji Sumonegoro (1903-1933), Radjiman diminta menjadi dokter Keraton Surakarta. Pekerjaan di Dinas Gubermen dilepas dan mengabdi sebagai dokter keraton sampai 1934. Radjiman sempat memperdalam ilmu kedokteran di Amsterdam (1910), Berlin (1911), kembali kuliah di Amsterdam (1919-1920), dan Amerika (1930) serta Paris (1931). Radjiman tercatat merintis Rumah Sakit Panti Raga, yang kemudian menjadi Rumah Sakit Kadipolo. Sayangnya, meski menjadi bangunan cagar budaya, kondisinya kini tak terawat.

Sri Susuhunan Paku Buwono X amat terkesan dengan pengabdian Radjiman. Sinuwun kemudian menganugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung Wedyodiningrat, sehingga nama lengkapnya menjadi KRT Radjiman Wedyodiningrat. Pensiun dari dokter pada usia 55 tahun, Radjiman memilih bercocok tanam di daerah dingin Tretes Jawa Timur selama lima tahun, lalu pindah ke Kampung Dirgo, Walikukun, Ngawi, Jawa Timur.

Sesuai janji politik pemimpin Jepang, dibentuklah Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 29 April 1945. Kecakapan dan kewibawaan Radjiman teruji di lembaga yang isinya para tokoh pergerakan ini. Radjiman dipilih bukan karena paling tua tetapi pengalaman dan pemahamannya atas sendi dasar kenegaraan. Dalam sebuah persidangan BPUPKI, setelah kurang puas dengan pidato beberapa anggota BPUPKI, Radjiman melontarkan pertanyaan, “Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?”.

Ada tiga tokoh yang mampu menjawab pertanyaan menukik dari Radjiman. Pada 29 Mei 1945, Muhammad Yamin menjawabnya dengan mengusulkan lima dasar negara, yakni Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Pada 31 Mei 1945 Soepomo mengusulkan konsep negara integralistik dengan dasar Persatuan, Kekeluargaan, Keseimbangan lahir dan batin, Musyawarah, dan Keadilan sosial. Dan pada 1 Juni 1945 Soekarno mengusulkan lima dasar negara, yakni Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang berkebudayaan. Soekarno menamai lima dasar itu dengan Pancasila.

Pertanyaan Radjiman yang filosofis itu dijawab pula oleh ketiga tokoh dengan rangkaian paparan yang filosofis. Ada keseriusan dalam mendesain sebuah negara baru, yang bukan seperti Belanda atau Jepang. Ada harapan bahwa Indonesia yang kaya dan luas akan menjadi negara kuat. BPUPKI di bawah kepemimpinan Radjiman Wedyodiningrat kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dengan ketua Ir. Soekarno. Panitia ini kemudian membentuk Panitia Kecil (dikenal dengan Panitia Sembilan) yang berhasil menyepakati rumusan dasar negara sekaligus Preambule UUD 1945.

Bersama Bung Karno dan Bung Hatta, Radjiman sempat diundang Marsekal Terauchi (Panglima Bala Tentara Jepang di Asia Tenggara) di Dalat Vietnam pada 11Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Radjiman terpilih menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Pada 1950-1952 sempat menjadi anggota DPR.

Pada pertengahan September 1952 Bung Karno sedang mengadakan kunjungan kerja di Surakarta. Mendapat kabar bahwa Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat meninggal dunia pada 20 September 1952, maka beliau mengubah semua rencana dan melayat ke rumah duka di Kampung Dirgo Widodaren Ngawi. Beliau amat kehilangan pada sosok yang sangat dihormati, bukan saja karena lebih senior tetapi kecakapan dan kewibawaan Radjiman yang mampu menakodai Indonesia menjelang kelahirannya. Bung Karno melepas jenazah KRT Radjiman Wedyodiningrat dengan berat dan sedih.

Jenazah KRT Radjiman Wedyodiningrat disemayamkan di Rumah Sakit Kadipolo Surakarta sebagai penghormatan atas dedikasi perjuangan beliau selama 28 tahun menjadi dokter keraton. Selanjutnya dibawa ke Mlati, Sleman, Yogyakarta dimakamkan di samping Dr. Ng. Wahidin Sudirohusudo, pamannya yang telah membukakan jalan hidup baginya.

Presiden Soeharto menetapkan 29 Mei sebagai Hari Lanjut Usia Nasional di Semarang pada 1996. Pertimbangannya terletak pada kepeloporan Dr. Radjiman Wedyodiningrat yang mampu memimpin BPUPKI pada masa krusial pada usia 66 tahun. Presiden Susilo Bambang Yudoyono kemudian menganugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 2013.

Pada 1 Juni 2026 bertempat di Museum Dr. Radjiman Wedyodiningrat digelar Festival Budaya Pancasila. Lokasinya berada di Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sebuah upaya untuk menjaga nyala api perjuangan sekaligus menghidupkan museum sebagai bagian pendidikan karakter bangsa.
(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *