catrawarta.com — Tiga perwira tinggi berpangkat Mayor Jenderal menghadirkan wajah lain dunia militer melalui musik. Mereka adalah Tran Gia Cuong, Nguyen Xuan Thuy, dan Duc Trinh. Ketiganya membuktikan bahwa prajurit tetap bisa merawat kepekaan rasa dan mencipta karya seni yang menyentuh kehidupan.
Duc Trinh, Prajurit Jujur & Emosional
Duc Trinh memulai perjalanan hidupnya sebagai prajurit sejak usia 16 tahun. Ia mengalami langsung kerasnya medan perang dan menyimpan pengalaman itu sebagai sumber inspirasi musik.
Prajurit Duc Trinh menciptakan lagu-lagu seperti The Distant Land dan The Soldier’s Wish dengan menggambarkan sosok prajurit yang kuat sekaligus penuh perasaan. Ia mengolah pengalaman hidupnya menjadi melodi yang jujur dan emosional.
Duc Trinh melanjutkan pendidikan di Konservatorium Musik Hanoi setelah perang usai. Pasca itu, Duc Trinh mengajar dan memimpin sebagai Rektor Universitas Kebudayaan dan Seni Militer. Di samping itu Duc Trinh juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Musisi Vietnam periode 2020–2025. Duc Trinh memaknai musik sebagai ruang kebebasan untuk mengekspresikan perasaan manusia secara utuh.
Mengubah Pengabdian Menjadi Karya

Tran Gia Cuong menjalani karier di kepolisian sekaligus mengembangkan bakat seni. Ia menjadi anggota Asosiasi Musisi Vietnam sejak tahun 2000 sebagai perwira pertama dari institusinya.
Ia menciptakan lebih dari 50 lagu yang
menggambarkan kehidupan aparat, seperti We Are Vietnamese Police Officers dan Traffic Police Song. Ia menyusun lagu dengan bahasa sederhana, namun menyampaikan emosi yang kuat dan dekat dengan realitas.
Ia juga menyalurkan kreativitasnya melalui seni patung. Ia mengolah akar dan batang kayu menjadi karya artistik seperti Saint Giong dan Aspiration. Ia menampilkan karya-karyanya dalam pameran bertajuk Exotic Wood pada tahun 2012.
Ia memandang seni sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas kehidupan dan pengabdian rekan-rekannya.
Mendidik dan Menghidupkan Empati

Nguyen Xuan Thuy menapaki dunia musik dari latar belakang sederhana. Ia mulai mengenal musik sejak kecil dan kemudian mendapat pendidikan militer sejak usia 13 tahun.
Ia menciptakan lagu-lagu seperti Return to Ha Tinh, My Love dan Journey of a Soldier dengan menggabungkan unsur tradisi lokal dan semangat keprajuritan. Ia menghadirkan musik yang disiplin dalam struktur, namun kaya emosi.
Ia menulis lagu Wake Up, My Comrades! untuk mengenang 13 prajurit yang gugur di Rao Trang. Ia menyampaikan duka dan penghormatan melalui karya yang menyentuh masyarakat luas.
Ia mengajar di Universitas Kebudayaan dan Seni Militer selama lebih dari 20 tahun. Ia membimbing generasi muda untuk menciptakan karya yang lahir dari empati dan pengalaman nyata.
Menyatukan Disiplin dan Kepekaan
Ketiga jenderal tersebut menunjukkan bahwa militer dan seni dapat berjalan beriringan. Mereka mengolah pengalaman pengabdian menjadi karya musik yang bermakna.
Mereka menulis lagu dari pengalaman nyata, bukan sekadar imajinasi. Mereka menghadirkan suara hati prajurit dalam bentuk melodi.
Mereka meninggalkan warisan berupa karya seni dan nilai kehidupan. Mereka mengajarkan bahwa seorang prajurit tetap bisa menjadi manusia yang utuh—tegas dalam tugas, namun lembut dalam rasa. (Berbagai sumber)

Kematian Ilham dan Retaknya Tatanan Sosial di Masyarakat 