catrawarta.com — Apa yang menarik dari kawasan titik Nol (Nol kilometer) di Kota Yogya, sehingga warga masyarakat utamanya dari luar Yogya merasa tak lengkap berkunjung di kota ini sebelum singgah di perempatan tersebut.
Titik Nol berada di ujung selatan Jalan Malioboro dan sebelah utara Keraton Yogyakarta. Tempat ini sangat strategis dan memiliki pesona tersendiri bagi para wisatawan. Apalagi, lokasinya tepat berada di tengah-tengah pusat Kota Yogyakarta,
Di sekitar Nol Kilometer juga terdapat bangunan-bangunan bersejarah seperti Monumen Serangan Oemom 1 Maret, Istana Gedung Agung, Beteng Vredeburg, Kantor Pos dan Gedung BNI yang masih berarsitektur lama. Kelebihan ini yang menjadikan Titik Nol selalu ramai dipadati pengunjung, terutama di sore hingga malam hari atau di hari-hari libur.
Metode Pembelajaran
Daya Tarik Titik Nol yang luar biasa inilah barangkali yang mendorong 40 siswa didampingi 7 guru pendamping dari MAN 2 Yogyakarta melakukan metode pembelajaran kontekstual melalui program studi akademik dan riset lingkungan.
Kegiatan tersebut dilakukan dengan menyusuri kawasan Titik Nol Kilometer untuk melakukan riset sejarah dan dinamika budaya. Dengan kegiatan itu diharapkan siswa tak hanya menghafal angka tahun di dalam kelas, tetapi mampu membaca kota sebagai ‘buku terbuka’.
Siswa melakukan observasi mendalam terhadap bangunan-bangunan ikonik di sekitar kawasan Titik Nol untuk memahami transisi fungsi ruang kota dari masa ke masa.
“Sejarah tidak boleh dipahami sebagai peristiwa yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Tapi sebuah proses yang terus berlanjut hingga hari ini,” kata guru sejarah MAN 2 Yogyakarta Nurul Zulaikha SPd dalam pernyataan persnya.
Menurut Nurul, kegiatan itu dilakukan dengan diskusi dua arah. Karena menggunakan Lembar Instrumen Kegiatan (LJK), siswa dilatih berpikir kritis dan menyusun kesimpulan akademik berdasarkan fakta lapangan.
Penguatan Literasi
Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih,MPd menegaskan, kegiatan ini bagian dari penguatan literasi dan identitas kebangsaan. Ia optimis kesadaran sejarah akan lebih kuat jika tumbuh dari pengalaman langsung.
”Sejarah akan lebih bermakna ketika dipelajari langsung di ruang hidupnya. Dengan begitu bisa menambah wawasan literasi semakin luas,” tutur Hartiningsih.

Pers Sehat, Demokrasi Kuat, Bangsa Bermartabat 