Catra Budaya

Melatih Lisan di Bulan Ramadan, Santri Belajar Berbicara di Era Digital

catrawarta.com — Di pendopo PPQ Safiinatunnaja Kalibeber, Mojotengah, suasana Rabu siang (4/3/2026) itu berbeda dari biasanya. Tidak ada kitab kuning terbuka di...

Sejumlah santri ppq safiitunnaja kalibeber mojotengah wonosobo saat mengikuti pelatihan publik speaking di bulan ramadan ini Foto  muharno zarka
Sejumlah santri PPQ Safiitunnaja Kalibeber Mojotengah Wonosobo saat mengikuti pelatihan publik speaking di bulan ramadan ini. Foto : Muharno Zarka

catrawarta.comDi pendopo PPQ Safiinatunnaja Kalibeber, Mojotengah, suasana Rabu siang (4/3/2026) itu berbeda dari biasanya. Tidak ada kitab kuning terbuka di pangkuan, tidak pula suara sorogan yang saling bersahutan. Empat puluh santri Pendidikan Diniyah Formal (PDF) duduk melingkar, sebagian tampak menunduk, sebagian lagi saling melempar senyum canggung. Hari itu mereka belajar berbicara.

Bulan Ramadan di pesantren memang identik dengan ngaji pasanan dan ibadah mahdhah. Namun kali ini, pengasuh pesantren ingin ada bekal lain yang dibawa pulang para santri: keberanian menyampaikan pikiran di depan umum.

Tema pelatihan, “Menguatkan Lisan, Menata Hati, Cetak Generasi Handal di Era Digital”, terdengar serius. Tetapi suasana berlangsung hangat. Narasumber yang hadir bukan orang jauh dari dunia komunikasi: Tunjang Ari Suseno, Wakil Ketua PC GP Ansor Wonosobo sekaligus penyiar radio, dan Faza Luthfia, jurnalis serta dosen tamu di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Keduanya tidak hanya berbagi teori. Mereka meminta santri berdiri satu per satu, memperkenalkan diri, lalu menyampaikan pesan singkat seolah-olah sedang berdakwah atau berbicara di depan masyarakat. Di situlah tantangan dimulai.

Beberapa santri terlihat kaku. Ada yang suaranya nyaris tak terdengar. Ada pula yang terlalu cepat berbicara karena gugup. Namun tak ada ejekan. Teman-teman mereka justru memberi tepuk tangan setiap kali satu peserta selesai tampil. Candaan ringan khas pesantren sesekali mencairkan suasana.

“Coba atur napasnya. Lihat audiens, jangan hanya lihat lantai,” ujar Faza memberi arahan. Tunjang menambahkan tips sederhana: berdiri tegak, buka bahu, dan mulai dengan kalimat yang paling dikuasai.

Pelan-pelan, perubahan terlihat. Suara yang tadinya gemetar mulai lebih tegas. Tatapan yang semula kosong mulai berani menyapu ruangan.

Pengasuh pesantren, KH Dr Ngarifin Shidiq Alh, MPd, yang juga Direktur Pascasarjana di Universitas Sains Al-Qur’an, menilai kemampuan berbicara di depan umum adalah kebutuhan mendasar bagi santri hari ini.

“Santri tidak cukup hanya memahami isi kitab. Mereka harus mampu menyampaikannya dengan baik dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurutnya, pola pendidikan di pesantren harus holistik: menguasai ilmu agama sekaligus ilmu umum, termasuk keterampilan komunikasi dan pemanfaatan teknologi informasi. Di era digital dan kecerdasan buatan, pesan dakwah bisa menyebar luas—tetapi juga bisa disalahpahami jika tidak disampaikan dengan bijak.

Lurah Pondok, Ahmad Yahya, berharap pelatihan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial Ramadan. Ia mengingatkan bahwa di pesantren sudah ada forum muhadlarah mingguan. Di situlah latihan harus terus dilakukan. “Keberanian itu dibentuk dari kebiasaan,” katanya singkat.

Menjelang sore, sesi ditutup dengan refleksi. Seorang santri mengaku awalnya takut berbicara karena khawatir salah. Namun setelah mencoba, ia merasa lebih percaya diri.

Tidak ada gemerlap panggung, tidak pula sertifikat mewah. Hanya pendopo sederhana, pengeras suara seadanya, dan semangat belajar yang tumbuh perlahan.

Di tengah padatnya ibadah Ramadan, pelatihan itu menjadi ruang kecil untuk melatih lisan sekaligus menata hati. Bagi para santri, mungkin inilah salah satu bekal penting sebelum benar-benar terjun ke masyarakat: berani berbicara, dengan tenang dan bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *