Catra Budaya

Laku Hidup Radjiman Menjadi Inspirasi Gerakan Kebudayaan

catrawarta.com — Ada yang istimewa dari peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Kabupaten Ngawi. Berpusat di rumah kediaman Dr. KRT...

Pentas seni tradisi di panggung terbuka museum krt radjiman wedyodiningrat dok Catra
Pentas seni tradisi di panggung terbuka Museum KRT Radjiman Wedyodiningrat (Dok. Catra)

catrawarta.comAda yang istimewa dari peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Kabupaten Ngawi. Berpusat di rumah kediaman Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat di Dusun Dirgo, Kauman, Widodaren digelar Festival Budaya Pancasila.

Sejak pagi halaman rumah tua itu sudah ramai dengan puluhan pedagang yang menjajakan aneka kuliner di tepi jalan. Ratusan ibu-ibu mengenakan kostum merah putih mengikuti senam aerobik, dilanjut lomba mewarnai untuk anak-anak yang diikuti 210 peserta. Seiring dengan itu para pelajar sekolah menengan di sekitar Widodaren mengisi panggung terbuka dengan Parada Gamelan. Menjelang tengah hari digelar sarasehan sejarah tentang kepeloporan Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat.

Pelukis kenamaan asal Ngawi, Budiyono Kampret, menghiasai area rumah yang kini menjadi Museum Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, dengan lukisan arang. Sebuah metode melukis yang langka karena dilakukan dengan menggosok arang pada kanvas sehingga menampilkan kesan artistik dan klasik.

“Tak mudah menggabungkan tema festival. Apakah mau mengangkat kisah Radjiman atau Pancasila. Setelah saya pertimbangkan, akhirnya fokus lukisan saya ada pada Garudeya. Kisah burung mitologis ini bisa ditemukan pada beberapa candi seperti Sukuh, Kidal dan Penataran. Hanya saja, saya mencoba mengaitkan dengan komitmen Radjiman dalam mengatasi kemiskinan dengan menggerakkan pertanian”, jelasnya kepada Catrawarta.

Lebih lanjut disampaikan, dirinya tak bisa mengabaikan kondisi ekonomi pertanian yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. “Selain mengangkat ritus pertanian yang lama menjadi tradisi bangsa, ada naga yang perlu diwaspadai. Dengan begitu, saya berharap, masyarakat bisa lebih mudah mencerna pesan keteladanan Ndoro Kanjeng (Red. Radjiman)”, imbuhnya.

Two vertical banners in a park each with large black ink drawings of mythic figures and symbols against a clear blue sky and green trees behind
Lukisan karya Budiyono Kampret bertema ritus agraris dengan Garudeya (Dok. Catra)

Festival Budaya Pancasila yang baru digelar pertama kalinya ini, menurut Joko Purnomo selaku panitia, diharapkan bisa benar-benar menyadarkan masyarakat tentang sosok Radjiman.

“Tak mudah untuk memulai kegiatan di rumah bersejarah ini, tetapi kami yakin pasti ada jalan karena niat kami tulus. Alhamdulillah ada suport dan dukungan dari berbagai pihak. Dan itu sangat membahagiakan, karena kami merasa tak sendirian. Semoga ini menjadi event tahunan yang lebih maju, meriah dan bermanfaat”, tandas Ketua Sanggar Seni dan Budaya Kertonegoro yang akrab disapa Mbah Bob ini.

Senin (1/6/2026) antara lain dimeriahkan dengan Ritual Tumpengan Pancasila membawa lima gunungan simbol Pancasila, etnomusikologi tari “Jani Manah”, dan pergelaran ketoprak wayang dengan lakon ” Sang Pengabdi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *