Catra Budaya

Hidupkan Griya Batik, Gerakkan Ekonomi Kreatif dan Diplomasi Budaya

catrawarta.com — Kota Yogya dan batik memang tak bisa dipisahkan. Apalagi status kota ini yang menjadi ikon Kota Batik Dunia, sehingga batik...

Sejumlah batik klasik dan kontemporer. (Istimewa)

catrawarta.comKota Yogya dan batik memang tak bisa dipisahkan. Apalagi status kota ini yang menjadi ikon Kota Batik Dunia, sehingga batik harus terus digerakkan dan dilestarikan.

Menyadari hal itu,  Pemda DIY bersama Dekranasda, komunitas dan perajin batik di daerah ini mendorong kolaborasi untuk menghidupkan kembali keberadaan Griya Batik di Jalan Patehan Lor 34, Kemantren Kraton Kota Yogya.

Harapannya, griya batik ini bisa menjadi simbol diplomasi budaya, yang tidak hanya merepresentasikan kekuatan batik Yogya di mata dunia. Namun, juga menggerakkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Sebab, Griya Batik hadir sebagai jembatan yang merawat warisan sekaligus menatap masa depan.

“Revitalisasi Griya Batik dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat nilai sejarah, tradisi, dan budaya Yogyakarta. Aktivitas pameran, edukasi serta produksi yang terintegrasi di Griya Batik diharapkan bisa memberdayakan pelaku industri kecil dan menengah di sektor batik, sekaligus menciptakan ekosistem yang berkelanjutan,” kata  Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati di Yogyakarta.

Pusat Edukasi Batik

Ia mengatakan, ke depan, Griya Batik diproyeksikan menjadi pusat edukasi batik bagi masyarakat luas, terutama generasi muda. Berbagai koleksi batik dari Kraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman akan ditampilkan, disertai ruang belajar yang membumikan nilai-nilai filosofis batik Yogya, 

“Griya Batik kembali dihidupkan bukan sekadar sebagai bangunan, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi batik warisan leluhur dengan semangat inovasi generasi masa kini,” terang Yuna.

Menurut Yuna, Disperindag DIY melakukan revitalisasi Griya Batik sebagai bagian dari komitmen menjaga batik tetap hidup dan relevan. Revitalisasi itu dirancang untuk mengembalikan fungsi Griya Batik sebagai ruang yang aman, sehat, nyaman serta selaras dengan lingkungan sekitarnya, sekaligus menjadi pusat aktivitas batik yang inklusif.

Mini Museum

Griya Batik diproyeksikan bertransformasi menjadi mini museum, showroom dan workshop batik yang hidup. Di ruang ini, batik tidak hanya dipamerkan sebagai artefak budaya, tetapi juga dipelajari, diciptakan dan diwariskan lintas generasi dari tangan perajin berpengalaman hingga generasi muda yang mulai mengenal canting.

Revitalisasi Griya Batik didukung Dana Keistimewaan sebesar Rp 871.625.900 yang dialokasikan untuk pekerjaan konstruksi, penyediaan perlengkapan interior serta penyusunan dokumen perencanaan pengembangan ke depan.

Dukungan ini menjadi pondasi penting agar Griya Batik mampu beroperasi secara optimal sebagai pusat rujukan bagi pegiat batik, perajin, pengusaha batik, hingga masyarakat umum,” paparnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *